Wednesday, 9 July 2014

Resensi Buku Alice's Adventure In Wonderland






Judul : Alice’s Adventure In Wonderland
Penulis : Lewis Carroll
Genre : Fiksi
Penerbit : Cikal Aksara (Agromedia)
Tahun Terbit : 2014


            Alice seorang gadis cilik, suatu hari ketika sedang berada di tepi sungai bersama kakak perempuannya melihat seekor kelinci yang berjalan dengan cepat. Namun aneh, kelinci itu tidak seperti kelinci pada umumnya. Kelinci itu memeiliki sebuah jam dan juga berpakaian. Alice terheran-heran melihat kelinci itu. Tidak disangka, ketika melihat kelinci itu, Alice akan memasuki dunia yang sangat menakjubkan dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
            Alice mengikuti perginya kelinci itu hingga tidak sadar dia masuk dalam sebuah lubang. Alice pun terjatuh di suatu rungan yang mebawanya ke dunia lain. Alice penasaran ketika mengintip di sebuah pintu, dia melihat pemandangan yang indah sehingga menarik hatinya untuk pergi ke sana. Namun sayang, ukuran badannya terlalu besar untuk melewati pintu tersebut. Ketika dia melihat cairan di dalam botol yang terletak di atas meja, diapun meminum cairan itu. Tubuhnya menyusut dengan cepat setelah meminum cairan aneh tersebut. Hingga sepanjang petualangannya di cerita ini, tubuhnya akan selalu membesar-mengecil-membesar-mengecil seiring dengan makanan-makanan aneh yang Alice temukan yang selalu membuat tubuhnya berubah-ubah ukuran.
            Ketika tubuhnya sudah menyusut, Alice memasuki dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia manusia. Dia bertemu dengan burung-burung yang dapat berbicara. Dia juga bercaka-cakap dengan tikus. Bertemu bayi yang kemudian berubah menjadi babi, tidak ketinggalan juga Alice sering melihat kelinci yang pertama kali dia lihat sering melintas di hadapannya dengan terburu-buru. Hingga akhirnya Alice bertemu dengan seorang Ratu, Ratu tersebut suka sekali memenggal kepala rakyat dan bawahannya ketika mereka berbuat salah.
            Cerita di atas adalah ringkasan buku yang Saya baca yang berjudul Alice’s Adventure In Wonderland. Buku klasik yang pertama diterbitkan pertama kali pada tahun 1865 dan diterbitkan ulang oleh penerbit Cikal Aksara pada tahun 2014. Sebenarnya sebelumnya juga telah banyak penerbit yang menerbitkan ulang buku ini.
Cerita Alice ini sudah sangat melegenda, bahkan sudah difilmkan juga. Ketika melihat bukunya yang agak tipis dan bersampul menarik seperti buku anak-anak pada umumnya, Saya langsung “senang” dengan buku tersebut. Saya kira buku itu akan dengan cepat Saya selesaikan. Namun, ketika membacanya ternyata perlu memeras otak juga untuk memahami maksud dari cerita itu. Tidak jarang saya mengulang membaca sebuah paragraf supaya saya bisa paham akan maksud dari paragraf tersebut. Meskipun begitu, dengan membaca buku ini imajinasi kita akan terasah. Membayangkan tiap-tiap bagian petualangan yang Alice lalui. Untungnya, di buku ini terdapat beberapa ilustrasi sehingga kita bisa membayangkan dengan mudah gambaran yang dimaksudkan oleh penulis.
            Menonton filmnya saja tidak cukup. Dengan membaca buku ini, kita akan melihat cerita Alice’s Adventure In Wonderland yang fenomenal itu melalui tulisan aslinya, bukan dari adaptasi-adaptasi film yang selama ini sering kita saksikan. Membayangkan ada seorang penulis di zaman itu yang memiliki imajinasi yang tinggi seperti pada cerita ini membuat cerita Alice’s Adventure In Wonderland patut untuk dikagumi.

Resensi Buku "Student Hijo"






Judul : Student Hijo
Penulis : Marco Kartodikromo
Genre : Fiksi, Novel
Penerbit : Yayasan Aksara Indonesia
Cetakan : Cetakan pertama, Februari 2000
Halaman : 212 halaman


            Dari sampulnya buku ini sungguh menarik, sangat terasa nuansa masa kolonialnya. Buku ini merupakan buku yang tergolong langka. Buku ini juga telah beberapa kali diterbitkan, kebetulan Saya membaca yang edisi lama. Secara fisik, buku yang Saya baca masih bagus untuk ukuran buku lama, hanya di pinggir buku sudah agak kotor. Bahasa di novel ini masih menggunakan bahasa jaman dulu, tapi masih bisa dengan mudah dipahami. Penulis buku ini adalah Marco Kartodikromo atau biasa disebut dengan Mas Marco, beliau memang senior dalam hal menulis pada zamannya. Seperti yang tertulis pada halaman awal, cerita dalam buku ini pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung di Surat Kabar Hindia pada tahun 1918, dan terbit sebagai buku pertama kali oleh N. V. Boekhandel en Drukken, MASMAN &STROINK, Semarang, 1919. Dengan kata lain, cerita ini dibuat sudah lama sekali, kemudian diterbitkan sebagai buku dalam versi modern pada tahun 2000.
            Novel ini menceritakan seorang pelajar yang baru saja lulus sekolah setingkat SMA saat ini bernama Hijo yang disarankan (disuruh) oleh orang tuanya untuk melanjutkan kuliah insinyur di Belanda. Pada zaman dulu memang kedudukan seseorang akan terangkat jika mendapatkan pendidikan yang tinggi, terutaman jika bersekolah di Belanda. Ayah Hijo sangat menginginkan Hijo agar bersekolah di Belanda, sedangkan ibunya tidak menginginkan Hijo sekolah di Belanda karena dia takut Hijo akan terbawa arus pergaulan pemuda Belanda yang negatif. Ibunya juga takut jika Hijo nantinya akan “kepincut” dengan perempuan Belanda, sedangkan dirinya sendiri sebenarnya telah dijodohkan dengan seoarang gadis yang masih saudaranya sendiri yang bernama Biru.
            Hijo akhirnya berangkat ke Belanda, di Belanda dia ditempatkan di sebuah rumah milik keluarga yang mempunyai anak perempuan. Betje, salah satu anak perempuan dari keluarga itu kepincut dengan Hijo, akhirnya mereka menjalin hubungan meskipun tadinya Hijo tidak pernah menghiraukannya karena sifat Hijo yang serius dan tidak pernah melakukan perbuatan yang sia-sia. Di Jawa, Biru (tunangan Hijo) bertemu dengan Wungu yang juga sebenarnya menaruh perhatian pada Hijo, Wungu mempunyai kakak laki-laki bernama mas Yo. Keluarga Wungu sangat baik hati terhadap keluarga Hijo dan Biru sehingga pada akhirnya ibu Hijo sangat bersimpati pada Wungu dan memutuskan untuk menjodohkan Hijo dengan Wungu dan Biru dengan Mas Yo. Ayah Hijo pun setuju dan meminta Hijo pulang ke Jawa untuk dinikahkan dengan Wungu. Hijo yang sebenarnya sangat galau dengan keadaan di Belanda sangat senang karena dia dijodohkan dengan Wungu, perempuan yang ternyata selama ini dicintainya. Hijo akhirnya memutuskan hubungannya dengan Betje.
            Untuk novel yang mempunyai banyak konflik di dalamnya, isi cerita novel ini cukup singkat. Pada awal bab diceritakan betapa saling mencintainya Hijo dan Biru, mereka pun sangat sedih ketika harus berpisah saat Hijo akan kuliah di Belanda, namun di akhir cerita dengan mudahnya Biru jatuh cinta pada kakak Wungu, Mas Yo. Dan mudahnya Hijo menerima perjodohannya dengan Wungu yang ternyata adalah perempuan yang selama ini dicintainya. Jadi selama ini dia tidak mencintai Biru.
            Sebenarnya sangat banyak pergolakan batin dan konflik yang terjadi pada mahasiswa Jawa yang bersekolah di Belanda saat itu. Gaya hidup muda-mudi jaman kolonial itu juga sangat tergambar sehingga kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka saat zaman penjajahan.
Namun, untuk permasalahan dalam dunia pendidikan sendiri kurang ditekankan, yang diceritakan lebih ke konflik dalam kehidupan sehari-hari dan percintaan. Gaya hidup yang glamour dan mewah sangat menonjol pada cerita ini. Karena Hijo sendiri berasal dari kalangan priyayi yang mampu.
Jika kita ingin mencari tahu bagaimana kehidupan pelajar dari Jawa yang belajar di negeri Belanda, dengan hanya membaca buku ini saja belum cukup karena buku ini kurang menceritakan detail bagaimana kehidupan pelajar Jawa yang belajar ke negeri Belanda. Ending dari buku ini juga sangat tidak terduga, berbeda dari yang saya bayangkan ketika pertama membaca bagian awal dari buku ini.
Buku yang menjadi salah satu pelopor non fiksi ini seharusnya banyak dibaca oleh generasi muda, namun sayang sepertinya buku ini tidak populer di telinga generasi muda saat ini, mungkin karena mereka membayangkan akan membaca buku "jadul" dengan kalimat yang susah untuk dimengerti ketika melihat buku berjudul "Student Hijo" ini, padahal sebenarnya kalimatnya mudah untuk dicerna, ceritanyapun masih menarik untuk dibaca pada zaman sekarang.

Resensi Buku "Twitografi Asma Nadia"





Judul : Twitografi Asma Nadia
Penulis : Asma Nadia
Genre : Non Fiksi, Semi Autobiografi
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Cetakan :
Halaman :


Twitografi Asma Nadia adalah kumpulan dari postingan (tweet) di akun @asmanadia. Sebelumnya saya sempat khawatir, meskipun buku ini cukup tebal, jangan-jangan isinya hanya sebatas copy paste dari tweet-tweetnya asma nadia saja. Ternyata setelah saya  baca, isinya lumayan menarik. Desain penulisan buku ini memang seperti tampilan di twitter, sepotong sepotong kalimat, tapi masing masing kalimat tersebut dengan kalimat di bawahnya saling menyambung.  Ada yang dibuat benar-benar seperti twitter, misalnya @asmanadia #cintamushola....
Namun, ada juga yang simbol2 twitternya dihilangkan dan tulisannya jadi mirip seperti  paragraf paragraf.
Buku ini tidak hanya mengulas satu tema, tapi berbagai macam tema yang pernah ditweet oleh asma nadia khusunya tema remaja seperti masalah patah hati, travelling, menulis, berjilbab. Namun ada juga tema yang agak serius seperti pernikahan dan poligami. Meskipun begitu, buku ini cukup ringan untuk dimengerti. Ada juga pengalaman-pengalaman asli dari asma nadia. Kadang saya dibikin terharu, tertawa, sedih,dan bersemangat tiap membaca bab yang berbeda dari buku ini. Di akhir buku ada sisi lain asma nadia yang kemungkinan besar tidak diketahui oleh publik. Buku ini seakan ingin mengabadikan tentang populernya twitter sebagai media untuk promosi maupun untuk mengajak atau mempengaruhi orang lain. Buku ini bukti bahwa twitter dapat mempengaruhi orang lain dan sangat dijadikan rujukan oleh orang-orang untuk mendapat berita atau sekedar mencari kata-kata motivasi.
Dengan gaya yang sangat ketwitteran tapi tidak membuat bingung pembacanya, dan tidak meninggalkan esensi pesan yang ingin disampaikan oleh penulis, suatu saat jika twitter sudah tidak digunakan lagi, buku ini akan menjadi bukti bahwa twitter pernah eksis dan menjadi bagian yang penting dari masyarakat saat ini.

Presidential Election in Indonesia

     Today is election to choose the president and vice president. The elections were followed by all Indonesian people is held from 07.00 to 13.00. Two camps supporting each candidate is enthusiastic to follow this election and they hope that they support a presidential candidate will win in this election. Quick count conducted by the mass media is also awaited eagerly.
     Previously, when the campaign period, the two camps supporting each candidate so enthusiastic in doing good campaign in social media such as facebook, twitter, and other media that can be written by the general public. Elections for president and vice president this time, only two candidates, so the feel of competition is felt.
     People can choose when they are given a letter of invitation by the election of the local neighborhood, after the voters came to the polling stations circuitry to bring the invitation letter, will then be given a ballot to vote by way of ballot image presidential candidates are selected using similar tools nails. Paper ballots had been punched inserted into the ballot box, voters before exiting first to dip his finger in blue ink that has been provided by the election committee for a marker that the voters have chosen. However, for the nomads who live in the area can not follow the election by first taking care of the necessary paperwork at the local government such as RT or RW.
     After the election is closed, someone who has not used their right to vote should not vote. Because after the ballot counting will take place quickly.
Even so, not all of the community welcomed the presence of this election. Many are pessimistic because it may not be in favor of both candidates. Any candidate we choose, or even if we do not choose we must keep harmony together. Do not let this election will only make the conflict at the expense of ourselves. Elections have been held, that we can do now is pray that whatever happens, Allah will still provide the best for our state and nation.

This is an overview of the implementation of elections in Indonesia, I took this picture from google
Picture 1 : Polling Station of Elections. There we can see there is a chamber that is used to "cast"




Picture 2 : dye ink as a sign have the right to vote in elections

Tuesday, 8 July 2014

Resensi Buku Petualangan Tom Sawyer





Judul : Petualangan Tom Sawyer
Penulis : Mark Twain
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1975
Halaman : 371 halaman


     Tom tinggal bersama bibinya, dan juga saudaranya. Bibinya yang galak, dan Tom yang suka membangkang membuat sering terjadi perseteruan di rumah bibinya itu. Tom yang masih duduk di bangku SD ini sering membuat ulah yang menyebabkan bibinya menjadi marah-marah. Di sekolah, Tom memiliki beberapa teman seperti Huck. Ada juga teman perempuan yang dia taksir bernama Becky, padahal sebelumnya Tom telah memiliki pacar, namun ketika melihat Becky, dia langsung jatuh hati pada gadis itu.
Tom sering melakukan "petualangan" dalam hidupnya yang mungkin petualangan yang luar biasa untuk anak-anak seusianya.
     Tom pernah memergoki pembunuh yang sedang beraksi membunuh seorang dokter di kuburan. Tom dan kawan-kawannya ketahuan telah mempergoki adegan pembunuhan tersebut. Tom dan teman-temannya akhirnya mengasingkan diri agar tidak diincar oleh pembunuh tersebut. Namun, akhirnya Tom bersaksi juga untuk kasus pembunuhan itu di pengadilan. Malang, sebelum Tom sempat menyelesaikan kesasiannya, Pembunuh itu berhasil kabur keluar dari pengadilan! 
Tom merasa nyawanya terancam....

     Buku yang masuk dalam  daftar "1001 books you must read before die" ini sudah diterbitkan berkali-kali dengan berbagai versi termasuk versi covernya yang bermacam-macam. Saya sendiri berkesempatan membaca buku ini dalam versi yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1975. Waooww, bahkan Saya belum lahir ketika buku ini diterbitkan. Buku yang saya baca ini bersampul hard cover dengan ukuran agak kecil dan bergaya klasik (ada pita pembatas bukunya juga). Ketika Saya melihat bagian belakang buku tersebut terdapat daftar harga buku-buku lain yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, harganya masih sekitar Rp 150,00 hingga Rp. 1000,00. Jadul sekali bukan? Membaca yang versi jadul ini justru memberikan sensasi tersendiri, bagaikan membaca sebuah buku klasik yang sudah langka. Sekarang, buku ini bisa ditemukan dalam versi cetakan terbarunya dengan berbagai macam cover yang berbeda.
     Meskipun masuk dalam daftar buku yang harus dibaca sebelum meninggal, tapi membaca buku ini membutuhkan ekstra berfikir untuk mencerna cerita yang ada di dalam novel, meskipun begitu novel ini tetap asyik untuk dibaca di zaman sekarang ini.

Saturday, 5 July 2014

Resensi Buku Shocking Japan

Judul : Shocking Japan

Penulis : Junanto Herdiawan
Penerbit : B First (PT Bentang Pustaka)
Cetakan : Kedua, Oktober 2012
Halaman : x+162 halaman




     "Shocking Jepang" merupakan buku yang akan membuat kita yang membacanya akan terkaget-kaget terkait dengan budaya Jepang yang belum atau jarang kita dengar. Apalagi bagi kita yang belum pernah ke jepang misalnya adanya perayaan-perayaan unik seperti perayaan hari menjadi dewasa, perayaan "pembuangan" boneka, juga perayaan hari anak perempuan. Ada juga kompetisi Sumo namun yang diadu di sini adalah bayi. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan masyarakat Jepang yang super disiplin dan sangat rapi. Ketika membuang sampahpun harus benar-benar diperhatikan, kita harus memisahkan sampah berdasarkan jenis-jenisnya. Teknologi yang berkembang pesat di Jepang pun tidak luput dari cerita yang dikisahkan oleh penulis. Toilet yang memiliki kecanggihan bahkan ada toilet yang bisa "bernyanyi" memang sudah cukup lama menjadi hal yang terkenal dari Jepang. Namun, di balik "kehebatan" orang-orang Jepang itu, ternyata masih ada juga kekurangan yang dimiliki oleh mereka. Tuhan memang Maha Adil ya, hehehe. Angka bunuh diri sangat tinggi di Jepang, bahkan terjun dari kereta yang sedang melaju adalah merupakan trend bunuh diri di Jepang. Tingginya angka bunuh diri yang terjadi pada remaja dan usia lanjut ini salah satunya disebabkan oleh faktor ketidakbahagiaan yang mereka alami. Orang-orang Jepang dianggap terlalu tegang sehingga hanya memikirkan kemajuan ekonomi dan teknologi namun kurang mencari makna hidup. Untuk mengurangi angka bunuh diri, pemerintah Jepang merekrut idol Jepang yaitu AKB48 untuk melakukan aksi anti bunuh diri dalam program GKB47 yang juga merupakan program pemerintah untuk menekan aksi bunuh diri. Meski begitu, selebihnya dalam buku ini lebih banyak mengupas mengenai sisi positif Jepang, misalnya fakta bahwa Jepang ternyata tidak mengklaim bahwa tempe adalah hak cipta Jepang, karena seluruh dunia tahu bahwa tempe berasal dari Indonesia. Berita ini tentu berkebalikan dengan yang sering kita dengar selama ini.
     Buku ini memang bertujuan untuk menceritakan hal-hal aneh yang berkaitan dengan budaya atau kebiasaan orang-orang di Jepang. Sebenarnya ada buku-buku sejenis yang juga menggambarkan keunikan-keunikan di sebuah negara seperti buku "Shocking Korea", "Shocking Egypt", dan "Shocking China". Buku mengenai travel atau traveller memang selalu menarik untuk dibaca dan dibahas.
     Dalam buku yang berukuran agak kecil ini terdapat sajian pengalaman penulis yang sudah agak lama tinggal di Jepang. Gaya penulisannya santai dan kadang bisa membuat kita tertawa geli juga, misalnya ketika penulis bersama kawan-kawannya akan mengunjungi "Hanami Malam" yang merupakan acara piknik sambil memandangi bunga sakura namun pada malam hari. Jauh-jauh datang dengan semangat membara ternyara gerbang tempat untuk melakukan "Hanami Malam" ternyata sudah ditutup sejak pukul enam sore.
     Buku ini cocok untuk yang ingin mengetahui secara singkat bagaimana budaya dan kebiasaan orang Jepang, mudah dipahami karena menggunakan gaya bahasa yang ringan.

Wednesday, 2 July 2014

Resensi Buku "Cintapuccino"



Judul                        : Cintapuccino

Penulis                     : Icha Rahmanti
Genre                       : Chicklit
Penerbit                   : GagasMedia
Tahun Terbit            : Cetakan ke-17, 2008
Jumlah Halaman       : xviii+260 halaman



     Novel atau buku yang diklaim sebagai chicklit berjudul "Cintapuccino" sebenarnya adalah novel yang sudah lama, kira-kira saat itu ketika Saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Saya mengetahui novel ini yang kemudian dijadikan film. Namun, saat itu Saya belum pernah membaca novel tersebut. Baru-baru ini Saya membaca tulisan yang menyebutkan bahwa novel "Cintapuccino" ini adalah salah satu novel remaja atau chicklit yang cukup bagus. Saya jadi tertarik dengan novel, kebetulan saat Saya ke toko buku, Saya menemukan novel yang sudah terbilang langka ini dan langsung Saya beli, hehehe.
     Cerita yang ada pada novel ini adalah cerita kehidupan remaja yang sering kita jumpai. Cerita di dalamnya tidak asing lagi di telinga kita sehingga kita bisa menikmati buku ini dengan cukup mudah.

     Berawal dari seorang gadis bernama Rahmi atau biasa dipanggil dengan Ami yang jatuh cinta pada kakak seniornya bernama Nimo saat duduk di bangku SMA. Kecintaan Ami pada kakak kelasnya bukan sekedar cinta biasa yang bisa dalam waktu singkat atau berpindah ke lain  hati. Ami pun mengkalim dirinya sudah terjangkit Virus Nimo Kronis. Memang benar, tidak hanya cukup memandang pujaan hatinya dari kejauhan saja, Ami pun mengikuti kegiatan-kegiatan yang juga diikuti oleh Nimo seperti kegiatan menjadi satuan keamanan di sekolah. Meskipun untuk menjadi anggota kegiatan itu Ami harus berjuang dengan keras dan tidak jarang mengorbankan kesehatannya karena memang kegiatan itu benar-benar merupakan kegiatan fisik. Selain itu, hal yang tidak boleh ketinggalan adalah mencari kabar terbaru Nimo, siapa pacarnya, kapan tanggal ulang tahunnya, dan di mana Nimo akan melanjutkan studinya.
      Meskipun akhirnya Ami satu kampus dengan Nimo, namun dia sama sekali tidak bisa dekat dan menjadi seseorang yang spesial bagi Nimo. Padahal Nimo selama ini cukup sering bergonta-ganti pacar dan Ami juga sempat memiliki pacar, namun cinta Ami pada Nimo tidak pernah berubah. Dia tetap ingin selalu berada dekat dengan Nimo. Hingga Ami memilih perusahaan yang sama dengan perusahaan tempat Nimo bekerja. Tapi sayangnya ternyata Nimo ditempatkan di luar negeri sedangkan Ami ditempatkan di luar pulau Jawa yang membuatnya sangat bosan menjalani hari-hari bekerja di tempat itu. Saat bekerja di tempat membosankan itulah Ami bertemu dengan Raka, jurnalis muda yang kariernya cukup cemerlang. Raka ini yang akhirnya menjadi calon suami Ami, Ami begitu nyaman dengan sikap Raka yang sangat dewasa. Ketika hari pertunangannya dengan Raka semakin dekat, tiba-tiba hal yang mengguncangnya dan mengguncang hubungannya dengan Raka terjadi. Nimo datang kepada Ami! Tidak, kedatangan Nimo bukan kedatangan yang biasa. Ada yang aneh dengan Nimo yang tidak biasanya menghubungi Ami kini semakin sering menghubungi Ami. Ami tidak habis pikir dengan sikap Nimo itu, begitu juga dengan Raka yang tidak menyangka bahwa ternyata perjalanan cintanya yang hampir menjelang kebahagiaan ini tidak berjalan dengan mulus.

     Dari novel ini selain kita bisa membaca kisah cinta remaja, kita juga bisa mengetahui gaya hidup remaja yang dijadikan tokoh dalam novel ini. Dituturkan dengan bahasa "gaul" membuat novel ini pas karena menggambarkan tokoh-tokoh yang menganut kehidupan yang "agak bebas".  Seperti contohnya ketika Ami tidak malu mengakui bahwa dalam keseharian dia adalah seorang perokok pada Ibu Raka yang merupakan  perempuan tua asli Jawa. Selain itu, tokoh Nimo ketika dewasa juga digambarkan sebagai "playboy" yang selalu melakukan petualangan cinta.
     Meskipun banyak yang mengatakan bahwa novel ini "luar biasa", namun menurut Saya cerita yang disampaikan pada novel ini adalah cerita yang telah banyak Saya dengar di luar novel ini sehingga ketika Saya membacanya tidak ada rasa keterkejutan atau emosi yang serasa dipermainkan. Terasa datar dan akhir ceritanya mudah ditebak. Namun, jalan ceritanya cukup menghibur dan kadang membuat Saya "tersenyum-senyum" sendiri ketika membaca beberapa bagian dari buku ini. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan novel "best seller" ini.