Labels

Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Thursday, 20 September 2018

Review Film Crazy Rich Asians : Kontestasi Kaum Borjuasi Asia dalam Memperebutkan Kuasa Dunia Percintaan

sumber : google
  

Saat membaca buku Crazy Rich Asians, yang saya dapatkan adalah perilaku-perilaku ‘mustahil’ dari para tokoh sebagai orang kaya raya di Asia. Terlihat mustahil karena saya memang jarang (belum pernah) menjumpai yang seperti itu. Kegilaan demi kegilaan diceritakan oleh penulis guna membuktikan bahwa orang kaya di Asia memang berperilaku ‘gila’, namun juga disusul dengan penggambaran sifat-sifat yang paradoks seperti ‘terlalu pelit’ untuk mengeluarkan uang. Hal yang mungkin akan jarang dijumpai pada kaum kaya raya di Barat sana. Yang saya suka dari novelnya adalah detail penceritaan dari penulis yang mampu menyajikan (seolah-olah) data kekayaan dari para milyarder itu, lengkap dengan merk-merk dan barang-barang mahal yang terdengar sangat rumit, sekaligus silsilah keluarga yang jujur membuat saya bingung ketika membaca novel ini di awal-awal.

Wednesday, 1 August 2018

Review Film Hotel Transylvania 3 : Summer Vacation, Mulai Dari Liburan Para Monster Hingga Konstruksi Musik Baik dan Musik Jahat


     
Sumber : Google



     Film Hollywood, meskipun merupakan film animasi, namun seperti biasa dapat dinikmati oleh berbagai kalangan dengan cerita yang pas, tidak dianggap sebagai cerita yang terlalu ringan untuk orang dewasa, namun juga tidak terlalu berat untuk dikonsumsi anak-anak. Hotel Transylvania, seperti seri sebelumnya menyuguhkan cerita tentang monster-monster di mana Dracula sebagai pemimpinnya difokuskan dalam kehidupan sehari-hari mereka ketika menjalankan bisnis hotel yang dinamai Hotel Transylvania.

Monday, 16 July 2018

Resensi Novel Pergi – Tere Liye : Romantisisme dalam Narasi Kelamnya Dunia Shadow Economy




Novel dengan judul yang sederhana, tapi isinya ternyata tidak sesederhana judulnya. Sequel dari novel berjudul Pulang ini masih memiliki gaya cerita yang mirip dengan novel pertamanya, itulah yang membuat saya suka karena saya membeli novel ini dengan tujuan melanjutkan lagi kisah terdahulunya yang saya anggap lumayan asyik untuk cerita yang berlatar di Indonesia dan ditulis oleh penulis Indonesia asli. Tapi, meskipun masih mirip dengan cerita sebelumnya, novel ini menyajikan lebih banyak kejutan yang tidak terduga. Kemunculan tokoh baru dan cerita yang terkuak dari tokoh yang sebelumnya seperti hanya figuran saja merupakan sajian yang menarik. Di novel Pergi ini setting tempatnya juga lebih banyak, berbagai negara menjadi lokasi yang digambarkan dengan sudut pandang berbeda. Jalan cerita masih menegangkan dengan banyak ‘baku hantam’, ditambah judul bab dalam cerita yang seringkali menjebak membuat novel ini memang layak sebagai novel yang mengusung tema misterius.

Thursday, 28 June 2018

Resensi Buku ‘Bukan Buku Diet’ By Alvin Hartanto


        

(Sumber : Goodreads)


        Selama ini saya belum pernah membeli buku tentang diet, kalau buku kesehatan secara umum sih sering, dan itupun jarang yang saya baca sampai habis. Entah kenapa, mungkin karena saya yang dari dulu mudah bosan kalau membaca hal yang berkaitan dengan kesehatan. Saya juga mencari informasi diet setengah-setengah dan melalui internet saja. Alhasil, diet yang saya tahu adalah diet yang (ternyata) sesat! Saya juga baru menyadarinya belum lama ini sebelum menemukan buku yang ditulis oleh Alvin Hartanto.

Friday, 18 May 2018

Resensi Buku ‘Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat’ Karya Mark Manson



            

       Kali ini saya senang dan merasa ada nuansa yang berbeda karena bisa membaca dan meresensi buku yang baru terbit (tahun 2018) dan terkenal (tentu saja karena buku ini mengalami tiga kali cetak dalam jangka waktu hanya tiga bulan sejak diterbitkan pertama kali untuk versi Bahasa Indonesia saja, versi Bahasa Inggris belum dihitung). Selain itu, buku ini juga sudah nampak berseliweran di mana-mana, maksut saya di beberapa foto atau postingan tokoh publik, hehe. Mark Manson sekarang juga menjadi lebih terkenal dan quotesnya sudah banyak didengar oleh publik. Di sini saya berkesempatan untuk membaca versi Bahasa Indonesianya. Judul asli buku ini adalah ‘The Art of Not Giving a F*ck’, betul ada sensor di kata terakhir, bukan semata-mata saya yang memberi sensor agar terlihat sebagai orang baik-baik :p.

Saturday, 29 April 2017

Resensi Novel Dilan Bagian Kedua - Pidi Baiq


Judul          : Dilan Bagian Kedua : Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis       : Pidi Baiq
Penerbit     : Paste Books
Cetakan II : Agustus 2015
Halaman    : 344 Halaman


Dilan, dia adalah Dilanku Tahun 1991.

Asal kamunya tetep ada di bumi. Udah cukup, udah bikin aku seneng. -Dilan.

Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf aku pasti tidak bisa karena aku cuma suka Milea. -Dilan

Setelah sukses dengan novel Dilan yang pertama, Pidi Baiq kembali mengeluarkan novel bagian kedua. Meskipun 'Dilan' bukan buku pertama karya Pidi Baiq, tapi novel ini yang kemudian menggegerkan bukan hanya kalangan remaja tapi bahkan sampai penggemar sastra klasik. Apalagi tokoh Dilan yang mampu membuat pembacanya berteriak-teriak histeris. Entah kenapa membaca Dilan bagian pertama bisa selalu membuat senyum tersungging di wajah, mampu membuat hati bahagia karena ikut merasakan keasyikan dunia remaja yang ada pada novel ini.

Sebagai penggemar berat Dilan bagian pertama, tentu Dilan bagian kedua ini akan membuat hati senang karena akhirnya kisah Dilan belum usai, kita semua masih bisa menikmati perjalanan Dilan dan Milea. Namun sepertinya, pada novel kedua ini pula pembaca harus berbesar hati menerima 'ending cerita' yang mungkin bisa menyesakkan dada.

Dilan dan Milea adalah remaja di sebuah sekolah di Bandung. Yang membuat menarik adalah cara 'pedekate' Dilan terhadap Milea yang unik, di novel bagian kedua ini akhirnya Dilan dan Milea jadian di warung Bi Eem dengan menggunakan surat perjanjian jadian bermaterai -_- dan lebih banyak diceritakan masa-masa mereka pacaran yang meskipun asik tapi ternyata banyak menjumpai masalah, tidak seperti di bagian pertama novel Dilan yang terkesan lebih ceria.

Dilan yang masih jadi cowok bandel tapi pinter ini semakin larut dalam geng motornya. Lia, panggilan si Milea mulai menasihati Dilan supaya tidak terlalu bandel lagi , tapi jawaban Dilan hanya : 'Kamu pikir bandel itu gampang? Susah. Harus tanggung jawab sama yang dia udah perbuat.'
Kata-kata Dilan ini masih bisa diterima oleh Lia, Lia juga semakin cinta dengan Dilan karena dia bisa mengubah pemikiran Lia dan menjadikan hidup Lia semakin asik. Ketika Dilan mengucapkan kata-kata lucu, Lia sering tertawa dan lebih sering tersenyum. Betapa bahagia itu sederhana ketika melihat Dilan bisa membahagian Lia dengan candaan jahilnya dan dengan jalan-jalan menggunakan motor Dilan.

Tapi, Lia yang sejak dulu sudah banyak disukai dan didekati oleh banyak cowok dan Dilan yang terus menerus terkena masalah membuat hubungan mereka semakin rumit. Lia yang tidak ingin Dilan terlibat masalah, Dilan yang tidak ingin kebebasannya dikekang membuat mereka berdua harus mengambil sebuah keputusan. Konflik demi konflik dialami Lia dan Dilan sampai Dilan sempat masuk dalam tahanan, beberapa orang baru mulai hadir di kehidupan Lia seperti Yugo. Suatu ketika, teman Dilan bernama Akew terbunuh, Dilan sebagai seorang sahabat harus ikut membalas dendam. Lia yang sebenarnya sangat menyayangi Dilan terpaksa pura-pura memutuskan Dilan supaya Dilan tidak melakukan hal-hal berbahaya lagi. Tapi apa yang sudah dikatakan Lia ternyata berakibat fata. Ending cerita dari Dilan bagian kedua ini sebenarnya sudah bisa ditebak, tapi cara penyampaian ceritanya yang ternyata tidak terduga. Dari sini Lia dan Dilan, dan juga para pembaca bisa memahami kata-kata yang tertulis pada bagian sampul buku : 'Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.'

Sunday, 16 April 2017

Resensi Buku (Novel) The Architecture of Love - Ika Natassa






The Architecture of Love, Sebuah Rancang Bangun Cinta

Dari pertama melihat sampul novel ini sebenarnya sangaat menarik, berbeda dengan sampul novel lainnya, kali ini gambarnya adalah sketsa kota New York yang berwarna, cocok dengan judul novelnya : The Architecture of Love. Sebenarnya kalau sudah suka dengan salah satu novel karya Ika Natassa pasti tidak akan ragu membeli novel lainnya, karena bisa dikatakan karya Ika Natassa memiliki ciri khas yang membuat satu karya dengan karya lainnya terlihat mirip. Hal itu justru yang membuat saya menunda untuk membeli buku karangan Ika Natassa yang satu ini, tapi akhirnya saya luluh juga karena ingin membaca buku tentang arsitektur tapi yang tidak terlalu berat, dan akhirnya buku ini saya beli juga ketika saya menyempatkan diri jalan-jalan ke toko buku sebelum pergi ke bandara terminal.
Baik, mari sekarang kita bahas mengenai novel metropop ini. Dari judulnya saja terlihat romantis, The Architecture of Love, Arsitektur Cinta. Widih, bagaimana itu, arsitektur dari sebuah cinta, kata yang bahkan seorang filsufpun susah untuk mendefinisikannya. Ternyata yang dimaksud di sini adalah mengenai kisah percintaan dua orang manusia yang sedang tinggal di New York bernama Raia dan River. Raia, seorang penulis yang mengalami writer's block atau kebuntuan dalam menulis ini memutuskan untuk pergi ke New York dengan tujuan mencari ide dan menghilangkan kebuntuannya dalam menulis yang sudah dia alami hampir dua tahun. Cari ide menulis sampai ke New York, bayangkan. Kalau saya paling beli es krim lima ribuan biar bisa nulis lagi. Abaikan.

Nah, di New York itulah dia bertemu dengan River, laki-laki penuh misteri yang akhirnya membuat Raya bisa lebih menikmati kota New York nantinya. River ini adalah tipe laki-laki yang cool, kenapa di novel-novel laki-laki tokoh protagonisnya kebanyakan adalah laki-laki cool? Yaa mungkin kalau yang digambarkan laki-laki genit suka caper di medsos auranya langsung bubar kali ya. River adalah seorang arsitek di Jakarta, sedangkan Raia adalah penulis best seller yang juga tinggal di Jakarta. Raia dan River sama-sama menyimpan rahasia kehidupan yang membuat mereka seakan putus asa. Namun, ketika mereka berdua bertemu di New York, mereka seperti saling menemukan kebahagiaan kembali. River mampu menunjukkan hal-hal menarik selama di New York, tidak lain dan tidak bukan mengenai berbagai arsitektur bangunan yang ada di kota itu. Lambat laun Raia mulai menemukan semangat kembali untuk menulis dengan adanya River yang sering menghambiskan waktu dengannya untuk menjelajah New York, Raia akan menulis cerita sedangkan River akan membuat sketsa apapun yang menarik perhatiannya terutama bangunan-bangunan yang sedang mereka kunjungi.

Dan yang terjadi jika sudah ada laki-laki dan perempuan yang bersama-sama dalam jangka waktu cukup lama adalah jatuh cinta. Raia dan River mulai jatuh cinta satu sama lain, tapi cinta yang mereka jalani tidak semudah itu. Rahasia hidup yang mereka milikilah yang membuat tembok di antara cinta mereka. Rahasia hidup seperti apakah itu? Pasti akan lebih menarik jika teman-teman membacanya langsung di novelnya. 

Sebenarnya untuk novel Ika Natassa kali ini agak biasa dibanding dengan A Verry Yuppy Wedding dan Critical Eleven, ini menurut saya lho yaaa. Jadi jalan ceritanya mudah ditebak, mungkin karena cerita ini dulunya adalah cerita bersambung di Twitter sehingga polling pembaca akan mempengaruhi jalan cerita ini. Tapi, sejak awal saya mengira sosok River ini mirip salah satu sosok selebriti Indonesia, dan ternyata di akhir buku Ika Natassa menyebutkan aktor tersebut yang menginspirasinya dalam tokoh River. Yang unik dalam novel ini adalah keterkaitannya dengan novel Critical Eleven, bagi yang sudah membaca Critical Eleven pasti masih melekat cerita antara Anya dan Ale. Raia memiliki nama belakang Risjad yang mana mengingatkan saya pada Aldebran Risjad alias Ale si tokoh utama dalam Critical Eleven, tapi saat itu saya tidak terlalu memikirkan kemiripan nama itu. Mungkin si penulis memang suka menggunakan nama Risjad. Tapi, di bagian akhir novel, surprise! Ternyata Raia Risjad memang masih memiliki hubungan kerabat dengan Ale Risjad. Di sini diceritakan pernikahan Harris yang ketika di novel Critical Eleven baru diceritakan proses lamarannya. Diceritakan pula anak Ale dan Anya yang telah lahir dan menjadi penyatu antara Ale dan Anya. Nah untuk ending antara Raia dan River sepertinya memang harus membaca sendiri supaya bisa menyimpulkan sendiri juga, yang jelas akan ada banyak surprise di dalam novel ini.

Overall, lumayan menghibur membaca The Architecture of Love, saya jadi mendapat ilmu seputar dunia aristektur dan terutama menambah wawasan saya mengenai kota New York. Tapi untuk kisah cintanya, sepertinya kurang mendebarkan seperti di novel sebelumnya. At least, karya Ika Natassa tetap salah satu yang akan terus saya tunggu-tunggu kehadirannya.

Sunday, 9 April 2017

Resensi Buku (Novel) 'Tentang Kamu' Karya Tere Liye



Ketika melihat sampul novel berjudul Tentang Kamu ini, hal pertama yang terlintas di benak saya adala : tidak nyambung. Apa hubungannya novel romantis dengan gambar sepatu tua? Kemudia saya meragukan, apakah novel ini akan jadi saya beli atau tidak. Namun, untuk yang pernah membaca novel Tere Liye, tentu tidak aka meragukan lagi kualitas tulisan dari Tere Liye. Maka saya tidak jadi ragu, saya justru berfikiran kalau novel ini pasti tidak se-mainstream yang dikira orang-orang, jangan-jangan novel ini bukan novel roman percintaan meskipun judulnya mengisyaratkan hal itu.

Mulailah pengembaraan membaca saya dimulai. Cerita diawali dengan perjuangan seorang pengacara muda yang tinggal di London namun ternyata berasal dari Indonesia dalam menuntaskan misteri mengenai menemukan ahli waris dari perempuan kaya asal Indonesia yang baru saja meninggal. Meskipun kekayaannya sangat besar, namun nama perempuan itu tidak pernah terdengar sehingga menjadi perjuangan sendiri untuk menelusuri jejak kehidupan perempuan kaya yang bernama Sri Ningsih itu. Akhirnya perjuangan sang pengacara muda membawa kita pada cerita kehidupan Sri Ningsih yang sangat menarik, cerita utama sebenarnya dari novel ini. Benar saja, ternyata ini bukan novel mengenai percintaan biasa, ini adalah kisah mengenai perjuangan, lika-liku hidup, dan indahnya jalan takdir seorang perempuan yang bahkan tidak pernah diperhitungkan oleh siapapun sebelumnya. Salah satu hal yang saya suka dari tokoh-tokoh novel yang ditulis oleh Tere Liye adalah karakteristiknya. Jika di novel lain tokoh utamanya adalah perempuan/laki-laki yang memiliki kesempurnaan fisik baik itu cantik maupun tampan, Tere Liye tidak ragu untuk menggambarkan bahwa tokoh utamanya adalah orang yang biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik bagi pandangan masyarakat umum. Tokoh utama di novel Tere Liye memiliki kekuatan karakter saat dia sudah berhasil dalam perjuangannya, fisik yang menarik bukan lagi menjadi fokus utama.

Sri Ningsih, gadis yang tumbuh di sebuah pulau kecil bersama ayah dan ibunya, namun malang ibu Sri Ningsih kemudian meninggal. Ayah Sri Ningsih menikah lagi dengan seorang gadis, dari sinilah kemalangan hidup Sri Ningsih dimulai. Awalnya ibu tirinya itu sangat menyayanginya, namun lalu Ayah Sri meninggal, dia dianggap sebagai anak pembawa bencana. Hidup Sri yang sudah tidak karuan itu kemudian membawanya tinggal di Jawa bersama adik hasil dari pernikahan Ayahnya dengan ibu tirinya. Ibu tiri Sri yang sudah membuat hidup Sri selama bertahun-tahun tersiksa itu meninggal di rumahnya sendiri akibat kebakaran. Ketika tinggal di Jawa, Sri mengalami pengalaman hidup yang luar biasa, bahkan ia juga mengalami peristiwa '65 yang membuat ia dikejar keanehan selama bertahun-tahun sampai ia meninggal di dunia nantinya di Paris.

Sri hidup merantau ke Jakarta setelah peristiwa '65. Di bagian inilah saya rasa cerita Sri tidak hanya mengandung motivasi namun juga memuat pelajaran berbisnis. Sri diceritakan berhasil merintis usaha berjualannya, hingga perjalanannya menjadi pengusaha yang naik turun. Tidak melulu mengenai perjuangan hidup, novel ini juga menceritakan kisah romantis antara perjumpaan Sri dengan laki-laki yang kelak menjadi suaminya. Fisik Sri yang tidak terlalu menarik (menurut standar industri kecantikan), membuat kisah cinta ini tidak seperti kisah cinta pada umumnya. Petualangan Sri juga berlanjut ketika ia tinggal di Inggris, hingga pindah ke Perancis. Kita benar-benar akan menikmati setting tempat yang berbeda-beda ini.
Saya puas membaca novel Tentang Kamu, isinya yang 'kaya; membuat kita tidak bosan mengikuti alur isinya. Membuat kita mengubah definisi bahwa romantis tidak hanya tentang cinta. Bahwa cinta tidak hanya berisi hal-hal yang manis.

Monday, 23 February 2015

Resensi Buku Tuhan Maha Romantis



Judul buku : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia, Lampu Djalan
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama, Februari 2014
Tebal : 251 halaman



(Foto diambil dari blog azharologia.com)


         Rijal Rafsanjani, seorang mahasiswa baru di Universitas Indonesia jatuh cinta pada kakak angkatannya sejak pandangan pertama. Dia melihat sosok yang istimewa dari Annisa Larasaty yang ternyata dalam kesehariannya menjadi dekat dengan Rijal. Berawal dari minta dilatih untuk membaca puisi, akhirnya Rijal dan Laras semakin akrab. Namun, keakraban mereka masih dalam batas pertemenan biasa. Bahkan, Laras adalah tipe perempuan yang tidak mau bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
            Tak disadari, Laras menjadi sumber inspirasi Rijal untuk menulis. Rijalpun bertekad akan menghindari Laras supaya rasa cintanya tidak semakin menjadi-jadi. Namun, di balik sikap penghindarannya, Rijal mempunyai rencana yang besar untuk Laras. Rencana yang akan dilakukannya ketika Laras wisuda nantinya. Namun, ternyata rencana ini tidak berjalan dengan mulus ketika ada suatu kejadian yang menimpa Laras dan keluarganya secara tiba-tiba.
            Rijal yang memiliki latar belakang keluarga taat beragama, sederhana, dan bahagia ini menggambarkan sosok anak laki-laki yang berbakti pada orang tuanya. Belum lagi sikap Rijal yang selalu mengagungkan sosok ayahnya, setiap tindakan yang dia ambilpun berdasarkan apa yang dipesankan oleh ayahnya. Sosok seperti Rijal ini sepertinya sekarang bisa dibilang cukup langka, mengingat dia adalah pemuda yang sedang kuliah di ibu kota.
            Tuhan Maha Romantis atau yang biasa disebut TMR merupakan karya kedua dari Azhar Nurun Ala, menggambarkan perjuangan laki-laki untuk bisa menikahi seorang gadis yang sangat dicintainya. Entah kenapa novel ini lebih terasa seperti puisi yang dibuat narasi. Tidak heran, karena buku penulis yang pertama memang berisi kumpulan puisi dan sajak. Untuk ukuran novel, konflik yang ditampilkan hanya sebatas pengejaran cinta Rijal terhadap Laras, dan konflik batin ketika Rijal harus menolak untuk menikahi Aira, perempuan yang akhirnya dilamarnya ketika Laras pergi tanpa kabar selama satu tahun.
            Berbeda dengan tokoh Fahri dalam Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy yang memilih tidak membatalkan pernikahannya meskipun ada perempuan lain yang sebelumnya pernah dicintainya, Rijal lebih memilih untuk mengejar Laras dan membatalkan pernikahannya dengan Aira yang hanya kurang dari dua hari lagi akan diadakan.
            Dengan membaca novel ini, kita akan tahu bagaimana kehidupan mahasiswa di Universitas Indonesia, karena sebagian besar settingnya memang ada di UI. Namun mungkin sepertinya cerita ini akan lebih menarik jika ditambah dengan konflik selama ada di kampus, dan detail yang lebih banyak. Misalnya seperti mengapa Rijal lebih mempertahankan cintanya pada perempuan yang merupakan kakak angkatannya, bisa saja penulis di sini menyusupkan cerita hubungan Rijal dengan teman seangkatannya. Atau ada teman seangkatan Rijal yang diam-diam menaruh hati pada Rijal. Memang untuk ukuran novel yang hanya terdiri dari 251 halaman seperti ini, akan susah untuk memasukkan konflik atau detail yang lebih banyak.
            Isi novel mudah ditebak begitu di bagian belakang novel langsung tertera bagaimana “ending” dari cerita ini. Namun, tetap saja membaca bagian yang puitis dari cerita TMR adalah hal yang menyenangkan. Misalnya pada bagian ini :
“Mencintai itu, bukan cuma soal rasa suka atau ketertarikan. Bukan cuma soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan besar."

Penulis sepertinya memang belum bisa lepas dari buku pertamanya, banyak kalimat dari buku pertama yang juga masuk dalam novel ini. Terutama kalimat puitis yang biasanya menjadi pembuka bab dalam novel atau ketika tokoh utama sedang mengalami konflik batin. Seperti buku pertama penulis yang saya kira adalah pengalaman penulis sendiri, buku ini juga saya pikir adalah pengalaman pribadi penulis atau yang biasa dikenal dengan “based on true story”. Membaca “Tuhan Maha Romantis” seperti membaca tulisan perjalanan hidup seseorang (perjalanan hidup penulis buku ini).
Bagi yang masih meragukan adanya cinta sejati, bacalah buku ini. Kita akan melihat bahwa perjuangan menggapai cinta sejati itu benar-benar ada karena seperti yang Saya tulis tadi, novel ini mirip dengan kisah hidup sang penulis.

Tuesday, 6 January 2015

Resensi Buku "Ja(t)uh"


 
                                      
                                       (foto diambil dari blog penulis : azharologia.com)


Judul : Ja(t)uh
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia
Tahun : 2013
Halaman : 164 halaman

Haloo... Ini adalah review pertama di tahun 2015. Kali ini Saya akan mereview buku berjudul “Ja(t)uh” yang hanya bisa dibeli secara online. Paket buku ini adalah paket buku termanis yang saya terima, dibungkus dengan kertas kado dan pita nuansa shabbychic yang sedang menjadi tren. Karena Saya belum pernah mengikuti bedah buku ini, dan Saya juga belum pernah membaca reviewnya, anggapan pertama Saya tentang buku ini adalah merupakan buku kumpulan puisi atau sajak yang diangkat dari tulisan di blog. Terdiri dari dua bab yaitu Jatuh dan Jauh (tanpa daftar isi), di dalam bab tersebut terdapat tulisan-tulisan pendek dengan banyak judul.
Setelah membaca judul pertama dalam bab pertama, ternyata buku ini tidak sepenuhnya memuat sajak atau puisi, namun juga terdapat narasi dan beberapa percakapan yang dilakukan oleh tokoh yang tersirat. Seperti yang disampaikan penulis di awal, buku ini memuat tulisan-tulisan ringan dari blog. Bab pertama menyajikan sebuah narasi yang sangat puitis. Anggapan kedua, mungkin isi selanjutnya dari buku ini adalah sajak yang bersambung di tiap babnya dan akhirnya mejandi satu kesatuan cerita dalam bentuk novel. Ternyata tidak, dalam setiap bab mengandung cerita yang berbeda. Kadang pada satu bab menceritakan kegelisahan seseorang yang tengah dirundung cinta, seperti pada bagian tulisan yang berjudul “Tertawan”  ini :
Ada yang beku : bibir
Ada yang tertahan : nafas
Ada yang tak berkedip : kelopak mata
Ada yang berdegup kencang : jantung
Ada yang berdesir deras : darah
Ada yang tertawan : hati
Ada yang berhenti berputar : bumi
Ada yang berhembus pelan : angin
Ada yang hening berbisik : rerumputan

Ada yang jatuh cinta padamu : aku

            Selesai membaca tulisan ini yang terlintas di fikiran adalah “so sweeeet”, paragraf yang cukup manis dan bisa membuat tersenyum pembacanya. Namun, tidak hanya menyajikan “kemanisan” saja, di bagian tulisan lain, seperti pada tulisan yang berjudul “Logika Tuhan” penulis menceritakan kegetiran hidup yang terjadi pada seorang lelaki yang baru sadar dari koma dan mendapati dirinya telah cacat akibat kecelakaan. Di sini penulis memang kadang menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku dan kadang menggunakan sudut pandang orang kedua yaitu Kamu.
            Namun, dilihat dari setiap akhir tulisan, inti yang ingin disampaikan penulis sebenarnya adalah sebuah nasihat dalam menjalani kehidupan. Misalnya dalam tulisan yang berjudul (bukan) Budak Dunia ini :
Bukan berarti kamu tak boleh punya mimpi. Mimpi itu oksigen yang membuat api hidupmu tetap hidup.
Padahal pada paragraf sebelumnya penulis mengungkapkan bahwa kebahagiaan adalah tidak berdasarkan banyaknya apa yang kita miliki. Dengan menggunakan kalimat perbandingan inilah penulis memberikan nasihat kehidupan yang menjadi tidak terkesan menggurui.
            Meskipun penulis mengatakan bahwa tulisan di buku ini adalah tulisan-tulisan yang ringan, namun ternyata ketika membaca tulisan demi tulisan cukup memeras otak juga, kadang bisa menimbulkan multi tafsir dan membuat otak berlatih lebih peka pada kata-kata yang romantis. Melihat sebagian besar cerita dalam tulisan-tulisannya adalah cerita romantis tentang kegelisahannya dalam hal cinta, Saya jadi berfikir apakah ini adalah sebuah ungakapan hati atau kisah penulis bersama istrinya? Hehehe.
            Ja(t)uh, menjauh untuk menjaga. Sepertinya itu bukan hanya kalimat di bawah judul yang ada pada sampul buku, namun juga inti dari keseluruhan buku ini. Baca dan nikmati buku ja(t)uh jika ingin menikmati sastra yang di dalamnya banyak pembelajaran hidup.

Thursday, 10 July 2014

Resensi Buku "Gadis Pantai"




Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Genre : Roman
Cetakan : 7, September 2011
Halaman : 272 halaman

     Gadis pantai adalah seorang gadis biasa yang tinggal di daerah kampung nelayan Karesidenan Jepara Rembang. Gadis ini adalah seorang "kembang" di desanya. Suatu hari, Gadis Pantai diharuskan menikah dengan Bendoro, meskipun hatinya menolak karena takut, orang tuanyapun sebenarnya kasihan kepadanya, namun mereka tidak bisa menolak keharusan ini. Gadis pantai akhirnya "diboyong" ke rumah Bendoro yang mewah dan harus meninggalkan kedua orang tuanya. Gadis Pantai selalu merasa kesepian, namun untungnya selalu ada bujang wanita yang menemaninya, mendongenginya dan siap melayaninya. Gadis Pantai yang selanjutnya dipanggil dengan "Mas Nganten" ini dijadikan istri yang tidak resmi oleh Bendoro, ini hanyalah pernikahan latihan sebelum Bendoro menikah "yang sebenarnya" dengan perempuan yang sederajat dengannya.
     Bendoro tidak setiap hari bersama dengan Gadis Pantai, dia sering bepergian dan Gadis Pantai tak perlu mengetahui kemana saja "suaminya" itu pergi. Setiap hari dia selalu kebosanan, lalu diapun mengisi waktunya untuk belajar berbagai macam hal. Dari bujang wanitanya pula ia belajar mengenai kehidupan.
     Gadis Pantai menjadi istri yang penurut ketika "suaminya" kembali ke rumah, dia tak perlu bertanya macam-macam kepada Bendoro. Gadis Pantai selalu menjaga sikapnya, hingga akhirnya Mas Nganten mengandung anak Bendoro. Dia tahu, sesudah kelahiran anaknya ini pastilah dia akan dibuang dan Bendoro akan segera melangsungkan pernikahan "sejatinya". Tapi Gadis Pantai terus berharap agar dia bisa bersama anaknya kelak. Cobaan-cobaan yang Gadis Pantai alami di rumah Bendoro dan kerinduannya terhadap orang tua dan kampung halamannya membuat Gadis Pantai ingin menjenguk kampung halamannya. Suatu saat, Gadis Pantai bisa pulang ke kampung halamnnya dengan membawa barang-barang untuk orang tuanya, orang-orang mengagumi Gadis Pantai yang telah menjadi Mas Nganten itu.
     Saat tiba waktunya Gadis Pantai melahirkan, ternyata anak yang dikandungnya adalah perempuan. Apakah Bendoro tetap akan mengambil anaknya karena bayi yang dia lahirkan adalah perempuan, bukan laki-laki. Timbul niatnya untuk mempertahankan anaknya yang baru lahir itu. Namun, apa daya ternyata Bendoro tetap mengambil anaknya, Gadis Pantai yang sudah tidak diperlukan harus keluar dari rumah Bendoro. Gadis pantai meraung-raung meminta anaknya dikembalikan, namun itu percuma saja. Gadis Pantai tidak bisa kembali ke desanya, pun untuk tetap tinggal di rumah Bendoro sudah tidak bisa lagi. Beberapa bulan selanjutnya, Gadis Pantai hanya bisa mengintip di balik dokar yang berhenti di depan rumah Bendoro.


     Seperti "buku bagus" yang lainnya, buku ini pun telah diterbitkan beberapa kali dengan sampul yang berbeda, dan Saya berkesempatan untuk membaca buku ini yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Dipantara. Gambar pada sampul buku ini menurut saya sangat bagus, ada gambar seorang gadis berwajah Jawa yang sedang duduk, di belakangnya nampak "priyayi" Jawa beserta ajudannya. Sangat menggambarkan isi cerita yang ada dalam buku ini. Membaca roman yang ditulis oleh Pram ini membuat perasaan menjadi sesak, terutama ketika pada bagian akhir saat Gadis Pantai dipisahkan oleh bayinya yang belum lama lahir. Juga ketika membaca keseluruhan buku ini, akan kita temukan betapa menderitanya batin Gadis Pantai. Meskipun dia adalah istri yang penurut, namun ada kalanya dia menemukan perang batin dalam dirinya, yaitu ketika dia jatuh hati pada tamu Bendoro yang sempat makandi ruang tamu di rumah Bendoro. Antara perasaan berdosa, ragu-ragu, namun dia akhirnya menikmati perasaannya itu ketika dia dapat duduk di kursi bekas tamu Bendoro duduk beberapa saat yang lalu sebelum Gadis Pantai duduk di kursi itu.
     Pramoedya Ananta Toer menceritakan feodalisme yang berujuang pada kesewenang-wenangan dan tindakan tidak berperikemanusiaan. Bendoro yang seorang priyayi berlaku sewenang-wenang terhadap Gadis Pantai yang hanya rakyat jelata, dia tega memisahkan Gadis Pantai dengan anak yang baru dilahirkannya. Kritik Pram sangat kentara dalam roman ini. Akibat sistem yang menyengsarakan rakyat jelata, banyak rakyat yang akhirnya terpaksa tunduk dan tidak bisa melawan seperti ketika orang tua Gadis Pantai sebenarnya tidak tega ketika anaknya ketakutan dan tidak mau ditinggal oleh kedua orang tuanya saat diharuskan "boyong" ke rumah Bendoro, kedua orang tua itu tidak mampu melawan kuasa Bendoro, akhirnya mereka merelakan anak gadisnya untuk tinggal di rumah Bendoro.
     Pram mengkisahkan dengan baik derita Gadis Pantai dan kesewenang-wenangan Bendoro beserta priyayi lain di sekitar Bendoro. Bacalah buku ini, dan kita akan terharu atas kehidupan si Gadis Pantai.

Resensi Buku "O Amuk Kapak"




Penulis : Sutardji Calzoum Bachri

Genre : Sajak
Penerbit : Yayasan Indonesia dan Majalah Horison
Cetakan : Ketiga, 20113
Halaman : 110 halaman



                                                                       Doa
     
                                                             O Bapak Kapak
                                                             beri aku leherleher panjang
                                                             biar kutetak
                                                             biar ngalir darah resah
                                                             ke sanggup laut
                                                             Mampus!  


     Sajak di atas adalah salah satu sajak karya Sutardji Calzoum Bachri yang dimuat dalam buku kumpulan sajaknya berjudul "O Amuk Kapak", Sutardji Calzoum Bachri adalah bagian yang lekat dalam khazanah sastra Indonesia. Sajak-sajaknya berbeda dengan penyair lain. Dalam bagian awal buku ini tertulis bahwa sejarah telah mencatat kelahiran Sutardji Calzoum Bachri sebagai pembaharu dan pelopor perpuisian Indonesia modern pada era 70-an. 
     Buku ini memuat kumpuln sajak-sajaknya dalam sajak O, Amuk, dan Kapak yang kemudian digabung menjadi satu : O Amuk Kapak. Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri memang unik, bukan hanya dari pemilihan diksinya saja, namun juga cara menuliskannya berbeda dari yang orang lain lakukan. Seperti dalam sajak berikut ini :

                                                          -selamat pagi-
                                                                         kata mereka
                                                                                        kata siang
                                                                                               sang penghibur itu
                                                          kasih
                                                                teguhlah
                                                          mari kita berikan kembali
                                                                         -selamat pagi- itu
                                                                              pada siang
                                                                         sang penghibur yang
                                                                         sia                      sia



     Penulisan sajak di atas yang tidak rata benar-benar ada. Tulisan di atas bukan karena saya yang salah mengetik. Namun, itu adalah bentuk salah satu sajak yang ditulis oleh Sutardji. Sutardji tidak hanya memperhatikan keindahan kata-kata dalam sajaknya saja, namun betul-betul memperhatikan tampilan kata-kata dalam sajaknya ketika ditulis dalam selembar kertas. Penulisan sajak yang berbentuk-bentuk itu juga memiliki makna tersendiri.
     Buku ini jarang ditemukan di toko-toko buku karena memang buku ini (yang pernah saya lihat) adalah milik negara dan tidak diperdagangkan. Jika menginginkan buku ini harus "bergerilya" untuk mendapatkannya. Namun, biasanya sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia baik SMP maupun SMA. 
     Membaca buku ini berarti membaca sajak-sajak yang unik tapi indah. Kita bisa melihat kekreatifitasan dari salah seorang penyair besar yang pernah ada di Indonesia.

Wednesday, 9 July 2014

Resensi Buku "Totto Chan"



Judul : Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Cetakan ke 12, Jul 2012 (Hard Cover)
Halaman : 272 halaman


     Totto Chan, seorang gadis kecil yang baru bersekolah di kelas satu SD harus dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap telah berbuat "nakal" dan di luar kelaziman anak-anak seusianya. Sebelumnua, Totto Chan selalu mebuat ulah yang merepotkan gurunya, namun ketika dia memanggil pengamen jalanan untuk bernyanyi di kelasnya, gurunya tidak tahan lagi dan itu adalah sebuah kesalahan yang membuatnya akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Mama Totto Chan yang penyabar tidak pernah memarahi anaknya yang sangat aktif itu, Mama juga tidak mengatakan bahwa Totto Chan telah dikeluarkan dari sekolahnya, namun Mama memberikan penjelasan lain yang tidak akan membuat Totto Chan sedih.
     Akhirnya Mama menemukan sekolah yang mau menerima Totto Chan. Sekolah itu unik dan berbeda dari sekolah pada umumnya. Kelas-kelas sekolah merupakan gerbong kereta api yang sudah tidak digunakan kemudian dijadikan menjadi ruang kelas. Saat menjalani "tes wawancara", Totto Chan tidak diberi pertanyaan yang sulit oleh Kepala Sekolah, namun Kepala Sekolah justru menyuruh Totto Chan bercerita panjang lebar tentang hal apapun yang ingin dia ceritakan. Ternyata ini adalah salah satu metode Kepala Sekolah untuk mendekati siswa-siswinya. Totto Chan pun akhirnya diterima di sekolah itu dan dengan cepat merasa nyaman dengan lingkungan barunya.
     Sekolah baru Totto Chan adalah sekolah yang unik, muridnya tidak banyak namun beberapa di antara mereka adalah murid yang memiliki penyakit, kelainan, ataupun berasal drai keluarga tidak mampu. Pembelajaran di sekolah itu juga unik, setiap murid diwajibkan membawa makanan yang berasal dari gunung dan dari laut. Totto Chan sangat penasaran dengan hal itu. Ketika sedang mengikuti pelajaran Totto Chan bisa memandang pemandangan di luar gerbong kelasnya. Di sekolah ini, murid-murid juga bisa memilih mata pelajaran yang disukainya. Kepala Sekolah dan guru-guru yang sangat dekat dengan anak-anak dan selalu menciptakan inovasi baru dalam pembelajaran membuat murid-murid di sekolah ini termasuk Totto Chan merasa betah untuk terus berada di sekolah. Pembelajaran yang diterapkan oleh Kepala Sekolah dan guru-guru di sekolah ini kelak akan sangat berguna bagi semua murid, tidak hanya terampil dalam hal mata pelajaran saja, namun mereka juga bisa memahami makna kehidupan yang sebenarnya lewat sekolah ini.

     Cerita Totto Chan telah begitu terkenal, tidak jarang pembelajaran dan sistem sekolah yang ada di sekolah Totto Chan yang unik itu menjadi impian oleh para aktivis pendidikan untuk dapat diterapkan juga di sekolahnya. Memang sistem pembelajaran yang digagas oleh Kepala Sekolah di sekolah Totto Chan sangat berbeda dari sekolah formal lainnya, ia begitu kreatif dalam menciptakan suasana menyenangkan di kelas. Totto Chan yang tadinya diberi label "nakal" pun dapat tertangani di sekolah ini. Meskipun dituturkan dengan gaya bahasa yang santai sudah sewajarnya jika buku ini menjadi bahan bacaan bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan.