Monday, 23 February 2015

Resensi Buku Tuhan Maha Romantis



Judul buku : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia, Lampu Djalan
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama, Februari 2014
Tebal : 251 halaman



(Foto diambil dari blog azharologia.com)


         Rijal Rafsanjani, seorang mahasiswa baru di Universitas Indonesia jatuh cinta pada kakak angkatannya sejak pandangan pertama. Dia melihat sosok yang istimewa dari Annisa Larasaty yang ternyata dalam kesehariannya menjadi dekat dengan Rijal. Berawal dari minta dilatih untuk membaca puisi, akhirnya Rijal dan Laras semakin akrab. Namun, keakraban mereka masih dalam batas pertemenan biasa. Bahkan, Laras adalah tipe perempuan yang tidak mau bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
            Tak disadari, Laras menjadi sumber inspirasi Rijal untuk menulis. Rijalpun bertekad akan menghindari Laras supaya rasa cintanya tidak semakin menjadi-jadi. Namun, di balik sikap penghindarannya, Rijal mempunyai rencana yang besar untuk Laras. Rencana yang akan dilakukannya ketika Laras wisuda nantinya. Namun, ternyata rencana ini tidak berjalan dengan mulus ketika ada suatu kejadian yang menimpa Laras dan keluarganya secara tiba-tiba.
            Rijal yang memiliki latar belakang keluarga taat beragama, sederhana, dan bahagia ini menggambarkan sosok anak laki-laki yang berbakti pada orang tuanya. Belum lagi sikap Rijal yang selalu mengagungkan sosok ayahnya, setiap tindakan yang dia ambilpun berdasarkan apa yang dipesankan oleh ayahnya. Sosok seperti Rijal ini sepertinya sekarang bisa dibilang cukup langka, mengingat dia adalah pemuda yang sedang kuliah di ibu kota.
            Tuhan Maha Romantis atau yang biasa disebut TMR merupakan karya kedua dari Azhar Nurun Ala, menggambarkan perjuangan laki-laki untuk bisa menikahi seorang gadis yang sangat dicintainya. Entah kenapa novel ini lebih terasa seperti puisi yang dibuat narasi. Tidak heran, karena buku penulis yang pertama memang berisi kumpulan puisi dan sajak. Untuk ukuran novel, konflik yang ditampilkan hanya sebatas pengejaran cinta Rijal terhadap Laras, dan konflik batin ketika Rijal harus menolak untuk menikahi Aira, perempuan yang akhirnya dilamarnya ketika Laras pergi tanpa kabar selama satu tahun.
            Berbeda dengan tokoh Fahri dalam Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy yang memilih tidak membatalkan pernikahannya meskipun ada perempuan lain yang sebelumnya pernah dicintainya, Rijal lebih memilih untuk mengejar Laras dan membatalkan pernikahannya dengan Aira yang hanya kurang dari dua hari lagi akan diadakan.
            Dengan membaca novel ini, kita akan tahu bagaimana kehidupan mahasiswa di Universitas Indonesia, karena sebagian besar settingnya memang ada di UI. Namun mungkin sepertinya cerita ini akan lebih menarik jika ditambah dengan konflik selama ada di kampus, dan detail yang lebih banyak. Misalnya seperti mengapa Rijal lebih mempertahankan cintanya pada perempuan yang merupakan kakak angkatannya, bisa saja penulis di sini menyusupkan cerita hubungan Rijal dengan teman seangkatannya. Atau ada teman seangkatan Rijal yang diam-diam menaruh hati pada Rijal. Memang untuk ukuran novel yang hanya terdiri dari 251 halaman seperti ini, akan susah untuk memasukkan konflik atau detail yang lebih banyak.
            Isi novel mudah ditebak begitu di bagian belakang novel langsung tertera bagaimana “ending” dari cerita ini. Namun, tetap saja membaca bagian yang puitis dari cerita TMR adalah hal yang menyenangkan. Misalnya pada bagian ini :
“Mencintai itu, bukan cuma soal rasa suka atau ketertarikan. Bukan cuma soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan besar."

Penulis sepertinya memang belum bisa lepas dari buku pertamanya, banyak kalimat dari buku pertama yang juga masuk dalam novel ini. Terutama kalimat puitis yang biasanya menjadi pembuka bab dalam novel atau ketika tokoh utama sedang mengalami konflik batin. Seperti buku pertama penulis yang saya kira adalah pengalaman penulis sendiri, buku ini juga saya pikir adalah pengalaman pribadi penulis atau yang biasa dikenal dengan “based on true story”. Membaca “Tuhan Maha Romantis” seperti membaca tulisan perjalanan hidup seseorang (perjalanan hidup penulis buku ini).
Bagi yang masih meragukan adanya cinta sejati, bacalah buku ini. Kita akan melihat bahwa perjuangan menggapai cinta sejati itu benar-benar ada karena seperti yang Saya tulis tadi, novel ini mirip dengan kisah hidup sang penulis.

Tuesday, 6 January 2015

Resensi Buku "Ja(t)uh"


 
                                      
                                       (foto diambil dari blog penulis : azharologia.com)


Judul : Ja(t)uh
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia
Tahun : 2013
Halaman : 164 halaman

Haloo... Ini adalah review pertama di tahun 2015. Kali ini Saya akan mereview buku berjudul “Ja(t)uh” yang hanya bisa dibeli secara online. Paket buku ini adalah paket buku termanis yang saya terima, dibungkus dengan kertas kado dan pita nuansa shabbychic yang sedang menjadi tren. Karena Saya belum pernah mengikuti bedah buku ini, dan Saya juga belum pernah membaca reviewnya, anggapan pertama Saya tentang buku ini adalah merupakan buku kumpulan puisi atau sajak yang diangkat dari tulisan di blog. Terdiri dari dua bab yaitu Jatuh dan Jauh (tanpa daftar isi), di dalam bab tersebut terdapat tulisan-tulisan pendek dengan banyak judul.
Setelah membaca judul pertama dalam bab pertama, ternyata buku ini tidak sepenuhnya memuat sajak atau puisi, namun juga terdapat narasi dan beberapa percakapan yang dilakukan oleh tokoh yang tersirat. Seperti yang disampaikan penulis di awal, buku ini memuat tulisan-tulisan ringan dari blog. Bab pertama menyajikan sebuah narasi yang sangat puitis. Anggapan kedua, mungkin isi selanjutnya dari buku ini adalah sajak yang bersambung di tiap babnya dan akhirnya mejandi satu kesatuan cerita dalam bentuk novel. Ternyata tidak, dalam setiap bab mengandung cerita yang berbeda. Kadang pada satu bab menceritakan kegelisahan seseorang yang tengah dirundung cinta, seperti pada bagian tulisan yang berjudul “Tertawan”  ini :
Ada yang beku : bibir
Ada yang tertahan : nafas
Ada yang tak berkedip : kelopak mata
Ada yang berdegup kencang : jantung
Ada yang berdesir deras : darah
Ada yang tertawan : hati
Ada yang berhenti berputar : bumi
Ada yang berhembus pelan : angin
Ada yang hening berbisik : rerumputan

Ada yang jatuh cinta padamu : aku

            Selesai membaca tulisan ini yang terlintas di fikiran adalah “so sweeeet”, paragraf yang cukup manis dan bisa membuat tersenyum pembacanya. Namun, tidak hanya menyajikan “kemanisan” saja, di bagian tulisan lain, seperti pada tulisan yang berjudul “Logika Tuhan” penulis menceritakan kegetiran hidup yang terjadi pada seorang lelaki yang baru sadar dari koma dan mendapati dirinya telah cacat akibat kecelakaan. Di sini penulis memang kadang menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku dan kadang menggunakan sudut pandang orang kedua yaitu Kamu.
            Namun, dilihat dari setiap akhir tulisan, inti yang ingin disampaikan penulis sebenarnya adalah sebuah nasihat dalam menjalani kehidupan. Misalnya dalam tulisan yang berjudul (bukan) Budak Dunia ini :
Bukan berarti kamu tak boleh punya mimpi. Mimpi itu oksigen yang membuat api hidupmu tetap hidup.
Padahal pada paragraf sebelumnya penulis mengungkapkan bahwa kebahagiaan adalah tidak berdasarkan banyaknya apa yang kita miliki. Dengan menggunakan kalimat perbandingan inilah penulis memberikan nasihat kehidupan yang menjadi tidak terkesan menggurui.
            Meskipun penulis mengatakan bahwa tulisan di buku ini adalah tulisan-tulisan yang ringan, namun ternyata ketika membaca tulisan demi tulisan cukup memeras otak juga, kadang bisa menimbulkan multi tafsir dan membuat otak berlatih lebih peka pada kata-kata yang romantis. Melihat sebagian besar cerita dalam tulisan-tulisannya adalah cerita romantis tentang kegelisahannya dalam hal cinta, Saya jadi berfikir apakah ini adalah sebuah ungakapan hati atau kisah penulis bersama istrinya? Hehehe.
            Ja(t)uh, menjauh untuk menjaga. Sepertinya itu bukan hanya kalimat di bawah judul yang ada pada sampul buku, namun juga inti dari keseluruhan buku ini. Baca dan nikmati buku ja(t)uh jika ingin menikmati sastra yang di dalamnya banyak pembelajaran hidup.

Tuesday, 5 August 2014

Resensi Buku "Speed Reading For Beginners"



Judul : Speed Reading For Beginners
Penulis : Muhammad Noer
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Maret 2012
Halaman : xvii+145 halaman
Genre : Non Fiksi



     Membaca buku tebal dengan cepat serta dapat memahami isi buku tersebut adalah dambaan bagi banyak orang terutama bagi para akademisi seperti mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dan membutuhkan membaca banyak referensi. Namun, tidak semua orang dapat membaca dengan cepat. Kondisi inilah yang juga menyebabkan banyak orang menjadi malas untuk membaca. Dengan "speed reading" atau membaca cepat, orang-orang bisa membaca jumlah kata yang banyak dengan waktu yang singkat, memahami bacaan dengan lebih cepat, dan mampu memilih informasi. Namun, banyak mitos tentang "speed reading" yang menyebabkan banyak orang pesimis terhadap metode "speed reading" ini. Mitos itu di antaranya adalah ketika membaca dengan "speed reading" maka kita tidak akan bisa memahami dan menikmati isi bacaan secara keseluruhan dan mitos mengenai "speed reading" hanyalah untuk orang yang pintar. Mitos-mitos ini dibantah pada bagian awal buku ini. 
     Selanjutnya kita diajak untuk mengukur kemampuan membaca kita dengan cara membaca artikel yang telah disediakan pada buku ini, jumlah kata yang dibaca dibagi dengan waktu yang digunakan untuk membaca (dalam detik) dan dikalikan enam puluh, maka hasilnya adalah kecepatan membaca kita. Selain itu, kita juga diuji tentang pemahaman kita mengenai isi bacaan tersebut dengan beberapa pertanyaan. Tes awal ini penting untuk membandingkan dengan hasil membaca kita setelah kita menerapkan metode "speed reading".
     Hambatan-hambatan dalam menerapkan metode "speed reading" dan cara mengatasinya juga dikupas dalam buku ini. Setelah bisa menghilang hambatan-hambatan yang ada pada diri sendiri, selanjutnya pembaca diajak memulai untuk menerapkan teknik dasar "speed reading", tahap-tahapnya yaitu dengan latihan mengenali kata, latihan mengenali frasa, membaca kelompok kata, melatih irama pergerakan mata, latihan membaca dengan empat kolom, latihan membaca dengan tiga kolom, latihan membaca dengan dua kolom. Teknik menengah "speed reading" yaitu membaca secara vertikal, penyesuaian kecepatan baca, dan proses membaca terstruktur secara cerdas. Pada bab terakhir buku ini juga diulas mengenai teknik khusus dalam "speed reading".
     Membaca buku ini tidak memerlukan banyak waktu, menurut penulis dari buku ini, hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikan buku ini dengan menggunakan kecepatan membaca rata-rata. Jika menggunakan teknik "speed reading" tentu waktu yang digunakan akan lebih sedikit. Dengan menguasai teknik "speed reading" diharapkan pembaca mampu memahami isi dari bacaan dengan lebih cepat dan tidak ada lagi buku atau e-book yang hanya disimpan dan tidak pernah dibaca. Untuk siapa saja yang ingin mempelajari kelanjutan dari teknik "speed reading", penulis menawarkan pelatihan melalui website nya pada bagian penutup buku ini. 

Thursday, 10 July 2014

Resensi Buku "Gadis Pantai"




Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Genre : Roman
Cetakan : 7, September 2011
Halaman : 272 halaman

     Gadis pantai adalah seorang gadis biasa yang tinggal di daerah kampung nelayan Karesidenan Jepara Rembang. Gadis ini adalah seorang "kembang" di desanya. Suatu hari, Gadis Pantai diharuskan menikah dengan Bendoro, meskipun hatinya menolak karena takut, orang tuanyapun sebenarnya kasihan kepadanya, namun mereka tidak bisa menolak keharusan ini. Gadis pantai akhirnya "diboyong" ke rumah Bendoro yang mewah dan harus meninggalkan kedua orang tuanya. Gadis Pantai selalu merasa kesepian, namun untungnya selalu ada bujang wanita yang menemaninya, mendongenginya dan siap melayaninya. Gadis Pantai yang selanjutnya dipanggil dengan "Mas Nganten" ini dijadikan istri yang tidak resmi oleh Bendoro, ini hanyalah pernikahan latihan sebelum Bendoro menikah "yang sebenarnya" dengan perempuan yang sederajat dengannya.
     Bendoro tidak setiap hari bersama dengan Gadis Pantai, dia sering bepergian dan Gadis Pantai tak perlu mengetahui kemana saja "suaminya" itu pergi. Setiap hari dia selalu kebosanan, lalu diapun mengisi waktunya untuk belajar berbagai macam hal. Dari bujang wanitanya pula ia belajar mengenai kehidupan.
     Gadis Pantai menjadi istri yang penurut ketika "suaminya" kembali ke rumah, dia tak perlu bertanya macam-macam kepada Bendoro. Gadis Pantai selalu menjaga sikapnya, hingga akhirnya Mas Nganten mengandung anak Bendoro. Dia tahu, sesudah kelahiran anaknya ini pastilah dia akan dibuang dan Bendoro akan segera melangsungkan pernikahan "sejatinya". Tapi Gadis Pantai terus berharap agar dia bisa bersama anaknya kelak. Cobaan-cobaan yang Gadis Pantai alami di rumah Bendoro dan kerinduannya terhadap orang tua dan kampung halamannya membuat Gadis Pantai ingin menjenguk kampung halamannya. Suatu saat, Gadis Pantai bisa pulang ke kampung halamnnya dengan membawa barang-barang untuk orang tuanya, orang-orang mengagumi Gadis Pantai yang telah menjadi Mas Nganten itu.
     Saat tiba waktunya Gadis Pantai melahirkan, ternyata anak yang dikandungnya adalah perempuan. Apakah Bendoro tetap akan mengambil anaknya karena bayi yang dia lahirkan adalah perempuan, bukan laki-laki. Timbul niatnya untuk mempertahankan anaknya yang baru lahir itu. Namun, apa daya ternyata Bendoro tetap mengambil anaknya, Gadis Pantai yang sudah tidak diperlukan harus keluar dari rumah Bendoro. Gadis pantai meraung-raung meminta anaknya dikembalikan, namun itu percuma saja. Gadis Pantai tidak bisa kembali ke desanya, pun untuk tetap tinggal di rumah Bendoro sudah tidak bisa lagi. Beberapa bulan selanjutnya, Gadis Pantai hanya bisa mengintip di balik dokar yang berhenti di depan rumah Bendoro.


     Seperti "buku bagus" yang lainnya, buku ini pun telah diterbitkan beberapa kali dengan sampul yang berbeda, dan Saya berkesempatan untuk membaca buku ini yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Dipantara. Gambar pada sampul buku ini menurut saya sangat bagus, ada gambar seorang gadis berwajah Jawa yang sedang duduk, di belakangnya nampak "priyayi" Jawa beserta ajudannya. Sangat menggambarkan isi cerita yang ada dalam buku ini. Membaca roman yang ditulis oleh Pram ini membuat perasaan menjadi sesak, terutama ketika pada bagian akhir saat Gadis Pantai dipisahkan oleh bayinya yang belum lama lahir. Juga ketika membaca keseluruhan buku ini, akan kita temukan betapa menderitanya batin Gadis Pantai. Meskipun dia adalah istri yang penurut, namun ada kalanya dia menemukan perang batin dalam dirinya, yaitu ketika dia jatuh hati pada tamu Bendoro yang sempat makandi ruang tamu di rumah Bendoro. Antara perasaan berdosa, ragu-ragu, namun dia akhirnya menikmati perasaannya itu ketika dia dapat duduk di kursi bekas tamu Bendoro duduk beberapa saat yang lalu sebelum Gadis Pantai duduk di kursi itu.
     Pramoedya Ananta Toer menceritakan feodalisme yang berujuang pada kesewenang-wenangan dan tindakan tidak berperikemanusiaan. Bendoro yang seorang priyayi berlaku sewenang-wenang terhadap Gadis Pantai yang hanya rakyat jelata, dia tega memisahkan Gadis Pantai dengan anak yang baru dilahirkannya. Kritik Pram sangat kentara dalam roman ini. Akibat sistem yang menyengsarakan rakyat jelata, banyak rakyat yang akhirnya terpaksa tunduk dan tidak bisa melawan seperti ketika orang tua Gadis Pantai sebenarnya tidak tega ketika anaknya ketakutan dan tidak mau ditinggal oleh kedua orang tuanya saat diharuskan "boyong" ke rumah Bendoro, kedua orang tua itu tidak mampu melawan kuasa Bendoro, akhirnya mereka merelakan anak gadisnya untuk tinggal di rumah Bendoro.
     Pram mengkisahkan dengan baik derita Gadis Pantai dan kesewenang-wenangan Bendoro beserta priyayi lain di sekitar Bendoro. Bacalah buku ini, dan kita akan terharu atas kehidupan si Gadis Pantai.

Resensi Buku "O Amuk Kapak"




Penulis : Sutardji Calzoum Bachri

Genre : Sajak
Penerbit : Yayasan Indonesia dan Majalah Horison
Cetakan : Ketiga, 20113
Halaman : 110 halaman



                                                                       Doa
     
                                                             O Bapak Kapak
                                                             beri aku leherleher panjang
                                                             biar kutetak
                                                             biar ngalir darah resah
                                                             ke sanggup laut
                                                             Mampus!  


     Sajak di atas adalah salah satu sajak karya Sutardji Calzoum Bachri yang dimuat dalam buku kumpulan sajaknya berjudul "O Amuk Kapak", Sutardji Calzoum Bachri adalah bagian yang lekat dalam khazanah sastra Indonesia. Sajak-sajaknya berbeda dengan penyair lain. Dalam bagian awal buku ini tertulis bahwa sejarah telah mencatat kelahiran Sutardji Calzoum Bachri sebagai pembaharu dan pelopor perpuisian Indonesia modern pada era 70-an. 
     Buku ini memuat kumpuln sajak-sajaknya dalam sajak O, Amuk, dan Kapak yang kemudian digabung menjadi satu : O Amuk Kapak. Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri memang unik, bukan hanya dari pemilihan diksinya saja, namun juga cara menuliskannya berbeda dari yang orang lain lakukan. Seperti dalam sajak berikut ini :

                                                          -selamat pagi-
                                                                         kata mereka
                                                                                        kata siang
                                                                                               sang penghibur itu
                                                          kasih
                                                                teguhlah
                                                          mari kita berikan kembali
                                                                         -selamat pagi- itu
                                                                              pada siang
                                                                         sang penghibur yang
                                                                         sia                      sia



     Penulisan sajak di atas yang tidak rata benar-benar ada. Tulisan di atas bukan karena saya yang salah mengetik. Namun, itu adalah bentuk salah satu sajak yang ditulis oleh Sutardji. Sutardji tidak hanya memperhatikan keindahan kata-kata dalam sajaknya saja, namun betul-betul memperhatikan tampilan kata-kata dalam sajaknya ketika ditulis dalam selembar kertas. Penulisan sajak yang berbentuk-bentuk itu juga memiliki makna tersendiri.
     Buku ini jarang ditemukan di toko-toko buku karena memang buku ini (yang pernah saya lihat) adalah milik negara dan tidak diperdagangkan. Jika menginginkan buku ini harus "bergerilya" untuk mendapatkannya. Namun, biasanya sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia baik SMP maupun SMA. 
     Membaca buku ini berarti membaca sajak-sajak yang unik tapi indah. Kita bisa melihat kekreatifitasan dari salah seorang penyair besar yang pernah ada di Indonesia.

Wednesday, 9 July 2014

Resensi Buku "Totto Chan"



Judul : Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Cetakan ke 12, Jul 2012 (Hard Cover)
Halaman : 272 halaman


     Totto Chan, seorang gadis kecil yang baru bersekolah di kelas satu SD harus dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap telah berbuat "nakal" dan di luar kelaziman anak-anak seusianya. Sebelumnua, Totto Chan selalu mebuat ulah yang merepotkan gurunya, namun ketika dia memanggil pengamen jalanan untuk bernyanyi di kelasnya, gurunya tidak tahan lagi dan itu adalah sebuah kesalahan yang membuatnya akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Mama Totto Chan yang penyabar tidak pernah memarahi anaknya yang sangat aktif itu, Mama juga tidak mengatakan bahwa Totto Chan telah dikeluarkan dari sekolahnya, namun Mama memberikan penjelasan lain yang tidak akan membuat Totto Chan sedih.
     Akhirnya Mama menemukan sekolah yang mau menerima Totto Chan. Sekolah itu unik dan berbeda dari sekolah pada umumnya. Kelas-kelas sekolah merupakan gerbong kereta api yang sudah tidak digunakan kemudian dijadikan menjadi ruang kelas. Saat menjalani "tes wawancara", Totto Chan tidak diberi pertanyaan yang sulit oleh Kepala Sekolah, namun Kepala Sekolah justru menyuruh Totto Chan bercerita panjang lebar tentang hal apapun yang ingin dia ceritakan. Ternyata ini adalah salah satu metode Kepala Sekolah untuk mendekati siswa-siswinya. Totto Chan pun akhirnya diterima di sekolah itu dan dengan cepat merasa nyaman dengan lingkungan barunya.
     Sekolah baru Totto Chan adalah sekolah yang unik, muridnya tidak banyak namun beberapa di antara mereka adalah murid yang memiliki penyakit, kelainan, ataupun berasal drai keluarga tidak mampu. Pembelajaran di sekolah itu juga unik, setiap murid diwajibkan membawa makanan yang berasal dari gunung dan dari laut. Totto Chan sangat penasaran dengan hal itu. Ketika sedang mengikuti pelajaran Totto Chan bisa memandang pemandangan di luar gerbong kelasnya. Di sekolah ini, murid-murid juga bisa memilih mata pelajaran yang disukainya. Kepala Sekolah dan guru-guru yang sangat dekat dengan anak-anak dan selalu menciptakan inovasi baru dalam pembelajaran membuat murid-murid di sekolah ini termasuk Totto Chan merasa betah untuk terus berada di sekolah. Pembelajaran yang diterapkan oleh Kepala Sekolah dan guru-guru di sekolah ini kelak akan sangat berguna bagi semua murid, tidak hanya terampil dalam hal mata pelajaran saja, namun mereka juga bisa memahami makna kehidupan yang sebenarnya lewat sekolah ini.

     Cerita Totto Chan telah begitu terkenal, tidak jarang pembelajaran dan sistem sekolah yang ada di sekolah Totto Chan yang unik itu menjadi impian oleh para aktivis pendidikan untuk dapat diterapkan juga di sekolahnya. Memang sistem pembelajaran yang digagas oleh Kepala Sekolah di sekolah Totto Chan sangat berbeda dari sekolah formal lainnya, ia begitu kreatif dalam menciptakan suasana menyenangkan di kelas. Totto Chan yang tadinya diberi label "nakal" pun dapat tertangani di sekolah ini. Meskipun dituturkan dengan gaya bahasa yang santai sudah sewajarnya jika buku ini menjadi bahan bacaan bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Resensi Buku Alice's Adventure In Wonderland






Judul : Alice’s Adventure In Wonderland
Penulis : Lewis Carroll
Genre : Fiksi
Penerbit : Cikal Aksara (Agromedia)
Tahun Terbit : 2014


            Alice seorang gadis cilik, suatu hari ketika sedang berada di tepi sungai bersama kakak perempuannya melihat seekor kelinci yang berjalan dengan cepat. Namun aneh, kelinci itu tidak seperti kelinci pada umumnya. Kelinci itu memeiliki sebuah jam dan juga berpakaian. Alice terheran-heran melihat kelinci itu. Tidak disangka, ketika melihat kelinci itu, Alice akan memasuki dunia yang sangat menakjubkan dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
            Alice mengikuti perginya kelinci itu hingga tidak sadar dia masuk dalam sebuah lubang. Alice pun terjatuh di suatu rungan yang mebawanya ke dunia lain. Alice penasaran ketika mengintip di sebuah pintu, dia melihat pemandangan yang indah sehingga menarik hatinya untuk pergi ke sana. Namun sayang, ukuran badannya terlalu besar untuk melewati pintu tersebut. Ketika dia melihat cairan di dalam botol yang terletak di atas meja, diapun meminum cairan itu. Tubuhnya menyusut dengan cepat setelah meminum cairan aneh tersebut. Hingga sepanjang petualangannya di cerita ini, tubuhnya akan selalu membesar-mengecil-membesar-mengecil seiring dengan makanan-makanan aneh yang Alice temukan yang selalu membuat tubuhnya berubah-ubah ukuran.
            Ketika tubuhnya sudah menyusut, Alice memasuki dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia manusia. Dia bertemu dengan burung-burung yang dapat berbicara. Dia juga bercaka-cakap dengan tikus. Bertemu bayi yang kemudian berubah menjadi babi, tidak ketinggalan juga Alice sering melihat kelinci yang pertama kali dia lihat sering melintas di hadapannya dengan terburu-buru. Hingga akhirnya Alice bertemu dengan seorang Ratu, Ratu tersebut suka sekali memenggal kepala rakyat dan bawahannya ketika mereka berbuat salah.
            Cerita di atas adalah ringkasan buku yang Saya baca yang berjudul Alice’s Adventure In Wonderland. Buku klasik yang pertama diterbitkan pertama kali pada tahun 1865 dan diterbitkan ulang oleh penerbit Cikal Aksara pada tahun 2014. Sebenarnya sebelumnya juga telah banyak penerbit yang menerbitkan ulang buku ini.
Cerita Alice ini sudah sangat melegenda, bahkan sudah difilmkan juga. Ketika melihat bukunya yang agak tipis dan bersampul menarik seperti buku anak-anak pada umumnya, Saya langsung “senang” dengan buku tersebut. Saya kira buku itu akan dengan cepat Saya selesaikan. Namun, ketika membacanya ternyata perlu memeras otak juga untuk memahami maksud dari cerita itu. Tidak jarang saya mengulang membaca sebuah paragraf supaya saya bisa paham akan maksud dari paragraf tersebut. Meskipun begitu, dengan membaca buku ini imajinasi kita akan terasah. Membayangkan tiap-tiap bagian petualangan yang Alice lalui. Untungnya, di buku ini terdapat beberapa ilustrasi sehingga kita bisa membayangkan dengan mudah gambaran yang dimaksudkan oleh penulis.
            Menonton filmnya saja tidak cukup. Dengan membaca buku ini, kita akan melihat cerita Alice’s Adventure In Wonderland yang fenomenal itu melalui tulisan aslinya, bukan dari adaptasi-adaptasi film yang selama ini sering kita saksikan. Membayangkan ada seorang penulis di zaman itu yang memiliki imajinasi yang tinggi seperti pada cerita ini membuat cerita Alice’s Adventure In Wonderland patut untuk dikagumi.