Tuesday, 8 July 2014

Resensi Buku Petualangan Tom Sawyer





Judul : Petualangan Tom Sawyer
Penulis : Mark Twain
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1975
Halaman : 371 halaman


     Tom tinggal bersama bibinya, dan juga saudaranya. Bibinya yang galak, dan Tom yang suka membangkang membuat sering terjadi perseteruan di rumah bibinya itu. Tom yang masih duduk di bangku SD ini sering membuat ulah yang menyebabkan bibinya menjadi marah-marah. Di sekolah, Tom memiliki beberapa teman seperti Huck. Ada juga teman perempuan yang dia taksir bernama Becky, padahal sebelumnya Tom telah memiliki pacar, namun ketika melihat Becky, dia langsung jatuh hati pada gadis itu.
Tom sering melakukan "petualangan" dalam hidupnya yang mungkin petualangan yang luar biasa untuk anak-anak seusianya.
     Tom pernah memergoki pembunuh yang sedang beraksi membunuh seorang dokter di kuburan. Tom dan kawan-kawannya ketahuan telah mempergoki adegan pembunuhan tersebut. Tom dan teman-temannya akhirnya mengasingkan diri agar tidak diincar oleh pembunuh tersebut. Namun, akhirnya Tom bersaksi juga untuk kasus pembunuhan itu di pengadilan. Malang, sebelum Tom sempat menyelesaikan kesasiannya, Pembunuh itu berhasil kabur keluar dari pengadilan! 
Tom merasa nyawanya terancam....

     Buku yang masuk dalam  daftar "1001 books you must read before die" ini sudah diterbitkan berkali-kali dengan berbagai versi termasuk versi covernya yang bermacam-macam. Saya sendiri berkesempatan membaca buku ini dalam versi yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1975. Waooww, bahkan Saya belum lahir ketika buku ini diterbitkan. Buku yang saya baca ini bersampul hard cover dengan ukuran agak kecil dan bergaya klasik (ada pita pembatas bukunya juga). Ketika Saya melihat bagian belakang buku tersebut terdapat daftar harga buku-buku lain yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, harganya masih sekitar Rp 150,00 hingga Rp. 1000,00. Jadul sekali bukan? Membaca yang versi jadul ini justru memberikan sensasi tersendiri, bagaikan membaca sebuah buku klasik yang sudah langka. Sekarang, buku ini bisa ditemukan dalam versi cetakan terbarunya dengan berbagai macam cover yang berbeda.
     Meskipun masuk dalam daftar buku yang harus dibaca sebelum meninggal, tapi membaca buku ini membutuhkan ekstra berfikir untuk mencerna cerita yang ada di dalam novel, meskipun begitu novel ini tetap asyik untuk dibaca di zaman sekarang ini.

Saturday, 5 July 2014

Resensi Buku Shocking Japan

Judul : Shocking Japan

Penulis : Junanto Herdiawan
Penerbit : B First (PT Bentang Pustaka)
Cetakan : Kedua, Oktober 2012
Halaman : x+162 halaman




     "Shocking Jepang" merupakan buku yang akan membuat kita yang membacanya akan terkaget-kaget terkait dengan budaya Jepang yang belum atau jarang kita dengar. Apalagi bagi kita yang belum pernah ke jepang misalnya adanya perayaan-perayaan unik seperti perayaan hari menjadi dewasa, perayaan "pembuangan" boneka, juga perayaan hari anak perempuan. Ada juga kompetisi Sumo namun yang diadu di sini adalah bayi. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan masyarakat Jepang yang super disiplin dan sangat rapi. Ketika membuang sampahpun harus benar-benar diperhatikan, kita harus memisahkan sampah berdasarkan jenis-jenisnya. Teknologi yang berkembang pesat di Jepang pun tidak luput dari cerita yang dikisahkan oleh penulis. Toilet yang memiliki kecanggihan bahkan ada toilet yang bisa "bernyanyi" memang sudah cukup lama menjadi hal yang terkenal dari Jepang. Namun, di balik "kehebatan" orang-orang Jepang itu, ternyata masih ada juga kekurangan yang dimiliki oleh mereka. Tuhan memang Maha Adil ya, hehehe. Angka bunuh diri sangat tinggi di Jepang, bahkan terjun dari kereta yang sedang melaju adalah merupakan trend bunuh diri di Jepang. Tingginya angka bunuh diri yang terjadi pada remaja dan usia lanjut ini salah satunya disebabkan oleh faktor ketidakbahagiaan yang mereka alami. Orang-orang Jepang dianggap terlalu tegang sehingga hanya memikirkan kemajuan ekonomi dan teknologi namun kurang mencari makna hidup. Untuk mengurangi angka bunuh diri, pemerintah Jepang merekrut idol Jepang yaitu AKB48 untuk melakukan aksi anti bunuh diri dalam program GKB47 yang juga merupakan program pemerintah untuk menekan aksi bunuh diri. Meski begitu, selebihnya dalam buku ini lebih banyak mengupas mengenai sisi positif Jepang, misalnya fakta bahwa Jepang ternyata tidak mengklaim bahwa tempe adalah hak cipta Jepang, karena seluruh dunia tahu bahwa tempe berasal dari Indonesia. Berita ini tentu berkebalikan dengan yang sering kita dengar selama ini.
     Buku ini memang bertujuan untuk menceritakan hal-hal aneh yang berkaitan dengan budaya atau kebiasaan orang-orang di Jepang. Sebenarnya ada buku-buku sejenis yang juga menggambarkan keunikan-keunikan di sebuah negara seperti buku "Shocking Korea", "Shocking Egypt", dan "Shocking China". Buku mengenai travel atau traveller memang selalu menarik untuk dibaca dan dibahas.
     Dalam buku yang berukuran agak kecil ini terdapat sajian pengalaman penulis yang sudah agak lama tinggal di Jepang. Gaya penulisannya santai dan kadang bisa membuat kita tertawa geli juga, misalnya ketika penulis bersama kawan-kawannya akan mengunjungi "Hanami Malam" yang merupakan acara piknik sambil memandangi bunga sakura namun pada malam hari. Jauh-jauh datang dengan semangat membara ternyara gerbang tempat untuk melakukan "Hanami Malam" ternyata sudah ditutup sejak pukul enam sore.
     Buku ini cocok untuk yang ingin mengetahui secara singkat bagaimana budaya dan kebiasaan orang Jepang, mudah dipahami karena menggunakan gaya bahasa yang ringan.

Wednesday, 2 July 2014

Resensi Buku "Cintapuccino"



Judul                        : Cintapuccino

Penulis                     : Icha Rahmanti
Genre                       : Chicklit
Penerbit                   : GagasMedia
Tahun Terbit            : Cetakan ke-17, 2008
Jumlah Halaman       : xviii+260 halaman



     Novel atau buku yang diklaim sebagai chicklit berjudul "Cintapuccino" sebenarnya adalah novel yang sudah lama, kira-kira saat itu ketika Saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Saya mengetahui novel ini yang kemudian dijadikan film. Namun, saat itu Saya belum pernah membaca novel tersebut. Baru-baru ini Saya membaca tulisan yang menyebutkan bahwa novel "Cintapuccino" ini adalah salah satu novel remaja atau chicklit yang cukup bagus. Saya jadi tertarik dengan novel, kebetulan saat Saya ke toko buku, Saya menemukan novel yang sudah terbilang langka ini dan langsung Saya beli, hehehe.
     Cerita yang ada pada novel ini adalah cerita kehidupan remaja yang sering kita jumpai. Cerita di dalamnya tidak asing lagi di telinga kita sehingga kita bisa menikmati buku ini dengan cukup mudah.

     Berawal dari seorang gadis bernama Rahmi atau biasa dipanggil dengan Ami yang jatuh cinta pada kakak seniornya bernama Nimo saat duduk di bangku SMA. Kecintaan Ami pada kakak kelasnya bukan sekedar cinta biasa yang bisa dalam waktu singkat atau berpindah ke lain  hati. Ami pun mengkalim dirinya sudah terjangkit Virus Nimo Kronis. Memang benar, tidak hanya cukup memandang pujaan hatinya dari kejauhan saja, Ami pun mengikuti kegiatan-kegiatan yang juga diikuti oleh Nimo seperti kegiatan menjadi satuan keamanan di sekolah. Meskipun untuk menjadi anggota kegiatan itu Ami harus berjuang dengan keras dan tidak jarang mengorbankan kesehatannya karena memang kegiatan itu benar-benar merupakan kegiatan fisik. Selain itu, hal yang tidak boleh ketinggalan adalah mencari kabar terbaru Nimo, siapa pacarnya, kapan tanggal ulang tahunnya, dan di mana Nimo akan melanjutkan studinya.
      Meskipun akhirnya Ami satu kampus dengan Nimo, namun dia sama sekali tidak bisa dekat dan menjadi seseorang yang spesial bagi Nimo. Padahal Nimo selama ini cukup sering bergonta-ganti pacar dan Ami juga sempat memiliki pacar, namun cinta Ami pada Nimo tidak pernah berubah. Dia tetap ingin selalu berada dekat dengan Nimo. Hingga Ami memilih perusahaan yang sama dengan perusahaan tempat Nimo bekerja. Tapi sayangnya ternyata Nimo ditempatkan di luar negeri sedangkan Ami ditempatkan di luar pulau Jawa yang membuatnya sangat bosan menjalani hari-hari bekerja di tempat itu. Saat bekerja di tempat membosankan itulah Ami bertemu dengan Raka, jurnalis muda yang kariernya cukup cemerlang. Raka ini yang akhirnya menjadi calon suami Ami, Ami begitu nyaman dengan sikap Raka yang sangat dewasa. Ketika hari pertunangannya dengan Raka semakin dekat, tiba-tiba hal yang mengguncangnya dan mengguncang hubungannya dengan Raka terjadi. Nimo datang kepada Ami! Tidak, kedatangan Nimo bukan kedatangan yang biasa. Ada yang aneh dengan Nimo yang tidak biasanya menghubungi Ami kini semakin sering menghubungi Ami. Ami tidak habis pikir dengan sikap Nimo itu, begitu juga dengan Raka yang tidak menyangka bahwa ternyata perjalanan cintanya yang hampir menjelang kebahagiaan ini tidak berjalan dengan mulus.

     Dari novel ini selain kita bisa membaca kisah cinta remaja, kita juga bisa mengetahui gaya hidup remaja yang dijadikan tokoh dalam novel ini. Dituturkan dengan bahasa "gaul" membuat novel ini pas karena menggambarkan tokoh-tokoh yang menganut kehidupan yang "agak bebas".  Seperti contohnya ketika Ami tidak malu mengakui bahwa dalam keseharian dia adalah seorang perokok pada Ibu Raka yang merupakan  perempuan tua asli Jawa. Selain itu, tokoh Nimo ketika dewasa juga digambarkan sebagai "playboy" yang selalu melakukan petualangan cinta.
     Meskipun banyak yang mengatakan bahwa novel ini "luar biasa", namun menurut Saya cerita yang disampaikan pada novel ini adalah cerita yang telah banyak Saya dengar di luar novel ini sehingga ketika Saya membacanya tidak ada rasa keterkejutan atau emosi yang serasa dipermainkan. Terasa datar dan akhir ceritanya mudah ditebak. Namun, jalan ceritanya cukup menghibur dan kadang membuat Saya "tersenyum-senyum" sendiri ketika membaca beberapa bagian dari buku ini. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan novel "best seller" ini.

Tuesday, 17 June 2014

Resensi Buku "Kappa"

Judul  : Kappa  
Penulis : Ryunosuke Akutagawa  
Genre  : Fiksi  
Penerbit : Interbook, KPP (Kelompok Penerbit Pinus)  
Cetakan : VII, Agustus 2009 



 
        Seorang laki-laki ketika sedang berjalan di gunung menjumpai Kappa, makhluk mistis yang sering diperbincangkan orang-orang. Makhluk yang dia temui itu juga sangat mirip ciri-cirinya dengan yang sering digambarkan masyarakat. Laki-laki tersebut berniat menangkap Kappa itu tapi justru dia terjerembab dan kemudian pingsan. Laki-laki itu kemudian dibawa oleh serombongan Kappa ke dalam dunia Kappa. Ketika sadar, laki-laki itu sudah berada di antara para Kappa.    
       Kappa adalah makluk yang bentuknya mirip dengan katak, mereka juga merupakan makhluk amphibi. Ternyata Kappa mempunyai kehidupan yang mirip dengan kehidupan manusia. Mereka menikah, ada dokter, seniman, dan kapitalis yang hidup di antara mereka. Kehidupan dalam dunia Kappa ini sebenarnya adalah sebuah sindiran.    
       Setelah sekian lama hidup dalam dunia Kappa, laki-laki itu dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan para Kappa. Dia ikut berdiskusi dan juga sering pergi bersama para Kappa. Namun akhirnya pada suatu saat ketika salah satu teman Kappa nya bunuh diri, laki-laki itu tidak tahan lagi untuk hidup di dunia Kappa. Dia muak dengan kehidupan sosial para Kappa. Diapun memutuskan untuk kembali ke dunia manusia. Tapi ternyata ketika sudah berada di dunia manusia lagi, dia mulai merindukan dunia Kappa, dia juga mrindukan teman-teman Kappanya. Setiap hari dia merasa selalu ada Kappa yang datang untuk mengunjunginya.  
       Kisah dalam novel ini diceritakan melalui sudut pandang orang gila yang menghuni kamar no. 23 di sebuah rumah sakit jiwa di..... Prolog dari novel ini saja sudah “mengerikan”, ternyata isi di dalam novel ini pun tidak kalah “mengerikannya”. Bahkan penulisnya bunuh diri tidak lama setelah menyelesaikan pembuatan novel ini.   
     Kappa  merupakan cerita satire dari Jepang. Penulis menggunakan mitos tentang makhluk “Kappa”  untuk menggambarkan keadaan sosial di lingkungannya. Penulis menceritakan kehidupan Kappa untuk menyindir kehidupan sosial pada masyarakat yang sebenarnya. Cerita mengenai Kappa betina yang selalu mengejar-ngejar Kappa jantan hingga Kappa jantan merasa tersiksa, cerita tentang kapitalis, penyair, dan polisi merupakan beberapa bagian yang merupakan kritik penulis. Novel yang telah mendapat berbagai penghargaan ini adalah novel yang singkat. Bukunyapun tipis, hanya 105 halaman, sedangkan sisanya halaman berikutnya adalah cerita mengenai riwayat hidup dari sang penulis   

Sunday, 20 April 2014

Resensi Buku 9 Summers 10 Autumns

Judul : 9 Summers 10 Autumns
Penulis : Iwan Setyawan
Genre : Novel, Fiksi
Tahun : Cetakan kesepuluh, Januari 2013
Penerbit : Kompas Gramedia


            Aku berasal dari keluarga yang sederhana, ayahku hanyalah seorang sopir angkot, sedangkan orang tuaku harus menanggung lima orang anak. Dengan adanya keterbatasan itu aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Dengan usaha kerasanya, kakak-kakakku yang semuanya perempuan itu menjadi siswi-siswi yang pintar di sekolahnya, begitu juga dengan adik perempuanku. Kelak, semua saudaraku itu akhirnya dapat hidup dengan sukses dan bahagia.
            Selama hidupku aku tak pernah menyerah, aku selalu berusaha belajar dengan giat hingga akhirnya aku dapat bersekolah di SMP, SMA, dan perguruan tinggi favorit. Setelah lulus dari kuliah, aku bekerja di sebuah perusahaan dan sempat berpindah perusahaan juga. Dari sinilah aku akhirnya dapat pergi bahkan tinggal dan bekerja di New York, Amerika Serikat. Selama bekerja di New York, aku sudah dapat mengirimi orang tuaku hasil jerih payahku, aku ingin sekali membalas jasa mereka. Namun, kadang aku dihinggapi rindu tanah air, aku sering mengisi waktu luangku dengan berlatih yoga dan berbincang dengan seorang anak laki-laki yang memakai seragam SD merah-putih. Aku selalu menceritakan padanya bagaimana perjalanan hidupku hingga aku bisa sampai di New York. Dari sinilah aku mengobati rasa rinduku.”

            Mungkin begitulah ringkasan novel 9 Summers 10 Autumns versi Saya. Novel ini menceritakan perjalanan seorang laki-laki yang berasal dari Batu, Malang, Jawa Timur yang berjuang agar mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya termasuk pendidikan. Kebulatan tekadnya itu yang membuatnya menjadi siswa yang pandai, dia selalu berhasil masuk di sekolah yang favorit. Hingga perjuangan itu berujung pada diterimanya bekerja pada perusahaan di New York.
          Membaca novel ini membuat rasa semangat belajar terpacu kembali. Novel ini merupakan novel motivasi yang terinspirasi dari kisah nyata penulis. Cukup banyak novel yang serupa dengan novel ini, namun novel yang sudah difilmkan ini lebih populer dari novel lainnya karena mempunyai kekhasan tersendiri yaitu dengan setting yang kental antara Batu-New York, dan perjuangannya yang tidak pernah usai serta membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Dengan ini pembaca menjadi termotivasi sehingga tidak memandang pesimis hidupnya. Hal ini terbukti dengan dicetaknya novel ini berkali-kali, bahkan novel yang saya baca ini sudah merupakan cetakan kesepuluhnya.
            Namun, novel ini terkesan “terlalu aman” atau “terlalu sopan”. Seolah seluruh perjuangan tokoh benar-benar berbuah manis. Tokoh dan keluarganya pada akhirnya selalu mencapai kesuksesan sehingga jalan cerita menjadi mudah ditebak. Penulis kurang memasukkan konflik yang membuat “greget” sehingga membaca novel ini seakan datar-datar saja karena jalan ceritanya terlalu mulus. Novel ini mirip sebuah catatan perjalanan hidup dari penulis sehingga kurang bisa memainkan emosi pembaca. Apalagi kehadiran bocah laki-laki yang memakai seragam SD tidak dijelaskan dari mana asal usulnya. Apakah itu hanya bayangan dari sang tokoh utama, atau merupakan seorang anak yang “real”. Dalam novel ini memang tidak dijelaskan, tetapi Saya tidak tahu bagaimana jika di filmnya karena saya belum pernah menonton film tersebut.
            Meskipun begitu, novel ini memang layak untuk dibaca. Bagi yang sedang “down” atau butuh motivasi, novel ini cukup ringan dibaca dengan tema yang familiar bagi kita sehingga cocok dibaca untuk meningkatkan semangat. Jalan ceritanya yang menggambarkan contoh kehidupan baik pantas untuk menjadi koleksi novel bermutu di rak buku kita.


Wednesday, 16 April 2014

Resensi Buku Ketika Mas Gagah Pergi




Judul                :  Ketika Mas Gagah Pergi
Penulis             :  Helvy Tiana Rosa
Penerbit           :  AsmaNadia Publishing House
Tahun              :  2011
Halaman          :  x+245 halaman

Sebenarnya saya sudah lama membaca cerpen helvy tiana rosa yang berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”. Saat masih SMA dulu, saat saya kuliah, cerpen ini kembali booming dengan dibikin buku. Awalnya saya mengira buku ini adalah cerpen yang dijadikan novel. Ternyata buku ini merupakan kumpulan cerpen dari Helvy Tiana Rosa yang lain, selain cerpen Ketika Mas Gagah Pergi. Memang cerpen ini kemudian dibuat lebih panjang dari cerpen yang saya baca dulu. Judulnya pun ada tambahannya : Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali...
Dulu ketika saya membaca cerpen ini, memang cerpen ini adalah cerpen yang sangat menggugah terutama untuk remaja. Begitu juga dengan membaca buku ini, saya seperti melihat sisi kehidupan lain yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Mas Gagah yang dulunya merupakan orang yang asik bagi adiknya Gita kini berubah menjadi pendiam dan aneh. Mas Gagah nampak lebih islami, hal ini tentu saja sangat aneh di mata Gita yang tomboy san berpenampilan cuek. Ternyata Mas Gagah telah berbuat banyak untuk orang-orang di sekitarnya seperti membantu anak-anak dan menyumbang alat-alat belajar. Membuat preman-preman tobat, dan sering mengisi seminar dan diskusi. Akhirnya Gita menjadi tergugah hatinya dan ingin berjilbab. Ketika menjelang hari ulang tahunnya, Gita ingin mengenakan jilbab dan ingin menunjukkannya pada Mas Gagah, namun sayang Mas Gagah tidak pulang ke rumah, dia meninggal...
Tidak hanya serita Ketika Mas Gagah pergi yang sangat menggugah, namun semua cerpen yang ada di buku ini membuat hati Saya baca tiap membacanya. Seperti cerpen “Selamanya Cinta”. Namun yang agak membuat Saya sedikit bosan, kebanyakan cerita ini mengedepankan kematian, sehingga agak mudah ditebak. Namun ada beberapa yang tidak menceritakan kematian. Memang dengan kisah toko yang dibuat tragis (atau bahkan sangat tragis) akan membuat pembaca sangat terbawa perasaan sedih. Namun jika hal ini diterapkan dalam buku yang isinya kumpulan cerpen, saya rasa jadi agak membosankan. Namun buku ini memang lain. Saya tidak menyesal mebaca buku ini, saya jadi tahu ternyata banyak orang-orang yang menderita, dan mengasah kepekaan sosial saya. Membaca buku ini seperti menemukan air karena akhir-akhir ini saya jarang membaca novel islami namun tetap asyik, realistis dan menggugah hati.

Resensi Buku Ciao Italia!




Judul      : Ciao Italia!
                 Catatan Petualangan Empat Musim
Penulis    : Gama Harjono
Penerbit  : GagasMedia
Tahun     : Cetakan Pertama, 2008
Halaman : vii+287 halaman

            “Terletak di lintas utama Roma-Florence, Orvieto, salah satu kota antik paling menarik yang pernah saya kunjungi. Terletak hanya satu jam perjalanan dengan kereta. Orvieto mudah dijangkau.
            Matahari mezzogiorno (tengah hari) memancar dengan intens, tetapi tidak terasa panas sama sekali (lah, Februari kan masih winter di Eropa!) Begitu keluar dari stasiun Orvieto, saya sedikit linglung, hmm... bagaimana yah cara ke centro?”

Tertarik dengan Italia? Penasaran dengan kota Italia? Baca buku ini!
Kalimat di atas adalah salah satu paragraf di buku Ciao Italia! Yang baru saja selesai saya baca. Pada halaman awal buku ini kita akan disuguhi foto-foto berwarna tentang pemandangan di Italia. Buku ini bukan novel, melainkan cerita penulis tentang kisahnya ketika berada di Italia, tepatnya ketika sedang menjalankan studinya di Italia. Mulai dari mengapa dia memilih Italia sebagai tempat untuk melanjutkan studinya, ulasan mengenai beberapa universitas yang sempat akan dia pilih, hingga petualangannya di Italia di empat musim. Dalam buku ini lebih menceritakan kegiatan-kegiatan penulis di luar akademis daripada ketika sedang menjalani perkuliahan. Menurut saya, buku ini lebih cocok untuk orang yang akan berlibur di Italia, dibandingkan sebagai panduan untuk bertahan hidup ketika menjalani di Italia, karena di buku ini kurang dipaparkan bagaimana pembelajaran di sana, terutama bagi pemula yang baru belajar di luar negeri untuk pertama kalinya. Atau bagaimana strategi agar bisa menyesuaikan dengan teman-teman lainnya yang sudah mahir berbahasa Italia.
            Namun, bahasa yang digunakan cukup menarik, seakan kita benar-benar sedang menjelajahi tempat-tempat wisata di Italia ketika penulis menceritakan pengalamannya dalam menjelajahi tempat wisata baik di Italia maupun di negara-negara tentangga sekitar Italia. Selain itu, penulis juga cukup objektif dalam memaparkan kekurangan dari negara tersebut. Ternyata negara yang dalam gambaran kita selama ini sangat indah memiliki juga sisi negatif sehingga ketika kita benar-benar ada di Italia, kita sudah tidak kaget lagi dan bisa waspada.
            Di akhir buku ini dilampirkan beberapa resep makanan Italia mudah dan lezat, beberapa kosa kata bahasa Italia, website-website belajar bahasa Italia dan tentu saja website informasi mengenai beasiswa untuk bisa belajar di Italia.