Wednesday, 4 March 2015

Kegiatan Wonosobo Sekolah SMP 2 Kaliwiro 28 Februari 2015


           Tim Wonosobo Sekolah kembali mengadakan acara sosialisasi pentingnya pendidikan yang tinggi bagi siswa siswi SMP. Kali ini tim yang beranggotakan Ir. Agus Subagyo, M.Si (Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan) sebagai koordinator, Dwi Saraswati, S. STP, M. Si (Alumni IPDN), Lutfi Lenyanti, S. Si, M. Sc (Alumni UGM) dan Unik Dian Cahyawati (Unnes) mengadakan sosialisasi tersebut di SMP 2 Kaliwiro. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.30 itu diawali oleh sambutan Kepala Sekolah SMP 2 Kaliwiro, selanjutnya diisi dengan materi pengalaman serta motivasi dari Ir. Agus Subagyo, M.Si. Para siswa kelas IX terlihat antusias ketika mendengar motivasi dari Bapak Agus, terutama karena penyampaian materi dilakukan secara akrab pada para siswa, pembicara tidak segan untuk merangkul siswa maupun bertanya tentang pengalaman mereka.


Bapak Agus ketika memberikan motivasi di sesi pertama

           Sesi kedua diisi oleh Ibu Saras dan Ibu Lutfi, materi yang diberikan adalah mengenai motivasi belajar. Di sela-sela acara, pembicara juga mengajak para siswa untuk berkenalan maupun berbagi pengalaman di depan teman-temannya. Peserta yang berani maju tersebut mendapat hadiah sebagai penyemangat agar peserta lain juga berani untuk mengungkapkan pendapatnya.
            Para siswa diajak untuk melihat video motivasi, selain itu pembicara mengadakan permainan kecil di mana mereka diharuskan untuk berbagi pengalaman menarik maupun cita-cita dengan teman sebelahnya. Setelah bercerita dengan teman sebelahnya, beberapa siswa maju untuk berbagi dengan seluruh peserta. Ada siswa perempuan yang menceritakan cita-cita dan pengalamnnya ketika harus berjuang agar tetap berprestasi meskipun keluarganya mengalami berbagai keterbatasan hingga meneteskan air mata, siswa-siswa lain juga ikut menangis ketika mendengar cerita dari temannya itu.


Ibu Saras memberi motivasi dan berbagi pengalamannya ketika menuntut ilmu di IPDN

Ibu Lutfi selain memberikan motivasi juga mengadakan permainan kecil untuk para siswa

 
 

Siswa tidak bisa menahan air mata yang keluar ketika bercerita tentang cita-citanya.

           Sesi terakhir adalah materi cara belajar efektif yang disampaikan oleh Unik Dian. Ada cara-cara belajar yang bisa diterapkan oleh para siswa terutama untuk siswa kelas IX yang sebentar lagi akan mengahadapi Ujian Nasional. Siswa dikenalkan perbedaan antara “study hard” dan “study smart”, waktu-waktu yang efektif untuk belajar, dan bagaimana agar belajar terasa mudah dan menyenangkan. Namun sangat disayangkan, kebanyakan peserta yang aktif dan fokus mengikuti acara adalah siswa perempuan, sedangkan siswa laki-laki yang duduk di bangku belakang terlihat tidak fokus karena mengobrol dengan teman. Meskipun begitu, siswa laki-laki yang mengikuti kegiatan dengan aktif juga masih banyak. Mungkin di lain waktu baik tempat duduk maupun ruangan bisa diatur agar semua peserta bisa fokus dalam mengikuti acara.
            Kegiatan di SMP 2 Kaliwiro ini berakhir pada pukul 12.00 setelah sesi tanya jawab berakhir. Meskipun tidak banyak siswa yang mengajukan pertanyaan, namun beberapa siswa yang bertanya terlihat sudah cukup mewakili pertanyaan teman-temannya.

 
Seorang siswa laki-laki maju mengikuti tantangan Bu Lutfi dan Pak Agus


Ibu Saras, Ibu Lutfi, dan Unik Dian berfoto bersama para peserta perempuan

Monday, 23 February 2015

Resensi Buku Tuhan Maha Romantis



Judul buku : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia, Lampu Djalan
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama, Februari 2014
Tebal : 251 halaman



(Foto diambil dari blog azharologia.com)


         Rijal Rafsanjani, seorang mahasiswa baru di Universitas Indonesia jatuh cinta pada kakak angkatannya sejak pandangan pertama. Dia melihat sosok yang istimewa dari Annisa Larasaty yang ternyata dalam kesehariannya menjadi dekat dengan Rijal. Berawal dari minta dilatih untuk membaca puisi, akhirnya Rijal dan Laras semakin akrab. Namun, keakraban mereka masih dalam batas pertemenan biasa. Bahkan, Laras adalah tipe perempuan yang tidak mau bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
            Tak disadari, Laras menjadi sumber inspirasi Rijal untuk menulis. Rijalpun bertekad akan menghindari Laras supaya rasa cintanya tidak semakin menjadi-jadi. Namun, di balik sikap penghindarannya, Rijal mempunyai rencana yang besar untuk Laras. Rencana yang akan dilakukannya ketika Laras wisuda nantinya. Namun, ternyata rencana ini tidak berjalan dengan mulus ketika ada suatu kejadian yang menimpa Laras dan keluarganya secara tiba-tiba.
            Rijal yang memiliki latar belakang keluarga taat beragama, sederhana, dan bahagia ini menggambarkan sosok anak laki-laki yang berbakti pada orang tuanya. Belum lagi sikap Rijal yang selalu mengagungkan sosok ayahnya, setiap tindakan yang dia ambilpun berdasarkan apa yang dipesankan oleh ayahnya. Sosok seperti Rijal ini sepertinya sekarang bisa dibilang cukup langka, mengingat dia adalah pemuda yang sedang kuliah di ibu kota.
            Tuhan Maha Romantis atau yang biasa disebut TMR merupakan karya kedua dari Azhar Nurun Ala, menggambarkan perjuangan laki-laki untuk bisa menikahi seorang gadis yang sangat dicintainya. Entah kenapa novel ini lebih terasa seperti puisi yang dibuat narasi. Tidak heran, karena buku penulis yang pertama memang berisi kumpulan puisi dan sajak. Untuk ukuran novel, konflik yang ditampilkan hanya sebatas pengejaran cinta Rijal terhadap Laras, dan konflik batin ketika Rijal harus menolak untuk menikahi Aira, perempuan yang akhirnya dilamarnya ketika Laras pergi tanpa kabar selama satu tahun.
            Berbeda dengan tokoh Fahri dalam Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy yang memilih tidak membatalkan pernikahannya meskipun ada perempuan lain yang sebelumnya pernah dicintainya, Rijal lebih memilih untuk mengejar Laras dan membatalkan pernikahannya dengan Aira yang hanya kurang dari dua hari lagi akan diadakan.
            Dengan membaca novel ini, kita akan tahu bagaimana kehidupan mahasiswa di Universitas Indonesia, karena sebagian besar settingnya memang ada di UI. Namun mungkin sepertinya cerita ini akan lebih menarik jika ditambah dengan konflik selama ada di kampus, dan detail yang lebih banyak. Misalnya seperti mengapa Rijal lebih mempertahankan cintanya pada perempuan yang merupakan kakak angkatannya, bisa saja penulis di sini menyusupkan cerita hubungan Rijal dengan teman seangkatannya. Atau ada teman seangkatan Rijal yang diam-diam menaruh hati pada Rijal. Memang untuk ukuran novel yang hanya terdiri dari 251 halaman seperti ini, akan susah untuk memasukkan konflik atau detail yang lebih banyak.
            Isi novel mudah ditebak begitu di bagian belakang novel langsung tertera bagaimana “ending” dari cerita ini. Namun, tetap saja membaca bagian yang puitis dari cerita TMR adalah hal yang menyenangkan. Misalnya pada bagian ini :
“Mencintai itu, bukan cuma soal rasa suka atau ketertarikan. Bukan cuma soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan besar."

Penulis sepertinya memang belum bisa lepas dari buku pertamanya, banyak kalimat dari buku pertama yang juga masuk dalam novel ini. Terutama kalimat puitis yang biasanya menjadi pembuka bab dalam novel atau ketika tokoh utama sedang mengalami konflik batin. Seperti buku pertama penulis yang saya kira adalah pengalaman penulis sendiri, buku ini juga saya pikir adalah pengalaman pribadi penulis atau yang biasa dikenal dengan “based on true story”. Membaca “Tuhan Maha Romantis” seperti membaca tulisan perjalanan hidup seseorang (perjalanan hidup penulis buku ini).
Bagi yang masih meragukan adanya cinta sejati, bacalah buku ini. Kita akan melihat bahwa perjuangan menggapai cinta sejati itu benar-benar ada karena seperti yang Saya tulis tadi, novel ini mirip dengan kisah hidup sang penulis.

Tuesday, 6 January 2015

Resensi Buku "Ja(t)uh"


 
                                      
                                       (foto diambil dari blog penulis : azharologia.com)


Judul : Ja(t)uh
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia
Tahun : 2013
Halaman : 164 halaman

Haloo... Ini adalah review pertama di tahun 2015. Kali ini Saya akan mereview buku berjudul “Ja(t)uh” yang hanya bisa dibeli secara online. Paket buku ini adalah paket buku termanis yang saya terima, dibungkus dengan kertas kado dan pita nuansa shabbychic yang sedang menjadi tren. Karena Saya belum pernah mengikuti bedah buku ini, dan Saya juga belum pernah membaca reviewnya, anggapan pertama Saya tentang buku ini adalah merupakan buku kumpulan puisi atau sajak yang diangkat dari tulisan di blog. Terdiri dari dua bab yaitu Jatuh dan Jauh (tanpa daftar isi), di dalam bab tersebut terdapat tulisan-tulisan pendek dengan banyak judul.
Setelah membaca judul pertama dalam bab pertama, ternyata buku ini tidak sepenuhnya memuat sajak atau puisi, namun juga terdapat narasi dan beberapa percakapan yang dilakukan oleh tokoh yang tersirat. Seperti yang disampaikan penulis di awal, buku ini memuat tulisan-tulisan ringan dari blog. Bab pertama menyajikan sebuah narasi yang sangat puitis. Anggapan kedua, mungkin isi selanjutnya dari buku ini adalah sajak yang bersambung di tiap babnya dan akhirnya mejandi satu kesatuan cerita dalam bentuk novel. Ternyata tidak, dalam setiap bab mengandung cerita yang berbeda. Kadang pada satu bab menceritakan kegelisahan seseorang yang tengah dirundung cinta, seperti pada bagian tulisan yang berjudul “Tertawan”  ini :
Ada yang beku : bibir
Ada yang tertahan : nafas
Ada yang tak berkedip : kelopak mata
Ada yang berdegup kencang : jantung
Ada yang berdesir deras : darah
Ada yang tertawan : hati
Ada yang berhenti berputar : bumi
Ada yang berhembus pelan : angin
Ada yang hening berbisik : rerumputan

Ada yang jatuh cinta padamu : aku

            Selesai membaca tulisan ini yang terlintas di fikiran adalah “so sweeeet”, paragraf yang cukup manis dan bisa membuat tersenyum pembacanya. Namun, tidak hanya menyajikan “kemanisan” saja, di bagian tulisan lain, seperti pada tulisan yang berjudul “Logika Tuhan” penulis menceritakan kegetiran hidup yang terjadi pada seorang lelaki yang baru sadar dari koma dan mendapati dirinya telah cacat akibat kecelakaan. Di sini penulis memang kadang menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku dan kadang menggunakan sudut pandang orang kedua yaitu Kamu.
            Namun, dilihat dari setiap akhir tulisan, inti yang ingin disampaikan penulis sebenarnya adalah sebuah nasihat dalam menjalani kehidupan. Misalnya dalam tulisan yang berjudul (bukan) Budak Dunia ini :
Bukan berarti kamu tak boleh punya mimpi. Mimpi itu oksigen yang membuat api hidupmu tetap hidup.
Padahal pada paragraf sebelumnya penulis mengungkapkan bahwa kebahagiaan adalah tidak berdasarkan banyaknya apa yang kita miliki. Dengan menggunakan kalimat perbandingan inilah penulis memberikan nasihat kehidupan yang menjadi tidak terkesan menggurui.
            Meskipun penulis mengatakan bahwa tulisan di buku ini adalah tulisan-tulisan yang ringan, namun ternyata ketika membaca tulisan demi tulisan cukup memeras otak juga, kadang bisa menimbulkan multi tafsir dan membuat otak berlatih lebih peka pada kata-kata yang romantis. Melihat sebagian besar cerita dalam tulisan-tulisannya adalah cerita romantis tentang kegelisahannya dalam hal cinta, Saya jadi berfikir apakah ini adalah sebuah ungakapan hati atau kisah penulis bersama istrinya? Hehehe.
            Ja(t)uh, menjauh untuk menjaga. Sepertinya itu bukan hanya kalimat di bawah judul yang ada pada sampul buku, namun juga inti dari keseluruhan buku ini. Baca dan nikmati buku ja(t)uh jika ingin menikmati sastra yang di dalamnya banyak pembelajaran hidup.

Tuesday, 5 August 2014

Resensi Buku "Speed Reading For Beginners"



Judul : Speed Reading For Beginners
Penulis : Muhammad Noer
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Maret 2012
Halaman : xvii+145 halaman
Genre : Non Fiksi



     Membaca buku tebal dengan cepat serta dapat memahami isi buku tersebut adalah dambaan bagi banyak orang terutama bagi para akademisi seperti mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dan membutuhkan membaca banyak referensi. Namun, tidak semua orang dapat membaca dengan cepat. Kondisi inilah yang juga menyebabkan banyak orang menjadi malas untuk membaca. Dengan "speed reading" atau membaca cepat, orang-orang bisa membaca jumlah kata yang banyak dengan waktu yang singkat, memahami bacaan dengan lebih cepat, dan mampu memilih informasi. Namun, banyak mitos tentang "speed reading" yang menyebabkan banyak orang pesimis terhadap metode "speed reading" ini. Mitos itu di antaranya adalah ketika membaca dengan "speed reading" maka kita tidak akan bisa memahami dan menikmati isi bacaan secara keseluruhan dan mitos mengenai "speed reading" hanyalah untuk orang yang pintar. Mitos-mitos ini dibantah pada bagian awal buku ini. 
     Selanjutnya kita diajak untuk mengukur kemampuan membaca kita dengan cara membaca artikel yang telah disediakan pada buku ini, jumlah kata yang dibaca dibagi dengan waktu yang digunakan untuk membaca (dalam detik) dan dikalikan enam puluh, maka hasilnya adalah kecepatan membaca kita. Selain itu, kita juga diuji tentang pemahaman kita mengenai isi bacaan tersebut dengan beberapa pertanyaan. Tes awal ini penting untuk membandingkan dengan hasil membaca kita setelah kita menerapkan metode "speed reading".
     Hambatan-hambatan dalam menerapkan metode "speed reading" dan cara mengatasinya juga dikupas dalam buku ini. Setelah bisa menghilang hambatan-hambatan yang ada pada diri sendiri, selanjutnya pembaca diajak memulai untuk menerapkan teknik dasar "speed reading", tahap-tahapnya yaitu dengan latihan mengenali kata, latihan mengenali frasa, membaca kelompok kata, melatih irama pergerakan mata, latihan membaca dengan empat kolom, latihan membaca dengan tiga kolom, latihan membaca dengan dua kolom. Teknik menengah "speed reading" yaitu membaca secara vertikal, penyesuaian kecepatan baca, dan proses membaca terstruktur secara cerdas. Pada bab terakhir buku ini juga diulas mengenai teknik khusus dalam "speed reading".
     Membaca buku ini tidak memerlukan banyak waktu, menurut penulis dari buku ini, hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikan buku ini dengan menggunakan kecepatan membaca rata-rata. Jika menggunakan teknik "speed reading" tentu waktu yang digunakan akan lebih sedikit. Dengan menguasai teknik "speed reading" diharapkan pembaca mampu memahami isi dari bacaan dengan lebih cepat dan tidak ada lagi buku atau e-book yang hanya disimpan dan tidak pernah dibaca. Untuk siapa saja yang ingin mempelajari kelanjutan dari teknik "speed reading", penulis menawarkan pelatihan melalui website nya pada bagian penutup buku ini.